29 January 2020, 16:58 WIB

Dampak Virus Korona, Ekspors Manggis Dihentikan


Kristiadi | Nusantara

PETANI manggis di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terpaksa harus menghentikan pengiriman buah tersebut ke luar negeri, terutama Tiongkok. Menyusul merebaknya virus korona hingga pengusaha harus melemparnya ke dalam negeri untuk menghindari kerugian. Buah manggis kualitas ekspor kini lebih baik dijual di pasar dalam negeri untuk menghindari kerugian cukup besar. Dan mengantisipasi buah cepat busuk.

Husni Tamrin, 40 karyawan PT AFA yang merupakan eksportir manggis di Kecamatan Salawu membenarkan bahwa ekspor manggis dihentikan karena merebaknya virus korona di Tiongkok.

"Kami telah menerima informasi dari Tiongkok agar jangan dulu dilakukan pengiriman. Saat ini tidak ada aktivitas warga yang keluar rumah karena mereka takut wabah virus korona," kata Husni, Rabu (29/1).

Husni mengungkapkan, ekspor buah manggis yang dilakukannya ke negeri tirai Bambu Cina selama itu mencapai 120 ton per bulan atau sekitar 30 ton per minggu, hingga penghentian pengiriman tersebut cukup mengganggu para kinerja perusahaan termasuknya petani. Bila kondisi di Tiongkok tidak segera pulih, perusahaan pengekspor manggis juga akan mengalami kerugian.

"Untuk menghindari kerugian cukup besar ini, perusahaan terpsksa harus menjual ke setiap pasar domestik dengan harga murah sebesar Rp13 ribu sampai Rp14 ribu per kilogram. Biasanya harga manggis kualitas ekspor Rp30 ribu per kg," tambahnya.

baca juga: Stok Pupuk Subsidi di Jabar-Banten Aman

Pegawai lainnya, Herdis, 32, mengatakan, wabah virus korona berdampak pada pendapatan para karyawan. Sebab mereka hanya mendapatkan upah berdasarkan jumlah penjualan.

"Buat pekerja jelas mengalami kerugian besar dan banyak teman memilih keluar. Selama ini pendapatan untuk keluarga kuran. Untuk memenuhi kebutuhan harus bekerja di tempat lain," tuturnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT