29 January 2020, 15:41 WIB

Salah Pilih Investasi, Asabri Rugi Hampir 5 Triliun


Putra Ananda | Ekonomi

PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri) mencatatkan kerugian hasil investasi atau unrealized loss senilai Rp 4,84 triliun selama 2019.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama PT Asabri Sonny Widjadja dalam acara rapat dengar pendapat (RDP) antara Asabri dengan Komisi XI DPR di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (29/1).

Sonny juga menyebut bahwa sepanjang 2019 Asabri sebetulnya telah mendapatkan hasil investasi dari instrumen pendapatan tetap senilai Rp 437,7 miliar. Angka tersebut mayoritas berasal dari penyertaan serta pendapatan obligasi senilai Rp 194,4 miliar dan bunga deposito senilai Rp 34,8 miliar. Pendapatan reksadana Asabri sendiri pada 2019 tercatat senilai Rp 197,2 miliar. Sementara instrumen saham mencatatkan unrealized loss Rp 5,2 triliun.

"Sehingga unrealized loss investasi Asabri pada 2019 senilai Rp 4,84 triliun," ujar Sonny.

Di hadapan pimpinan dan anggota Komisi XI DPR, Sonny menjelaskan bahwa penurunan nilai saham dan reksadana saham menjadi salah satu penyebab meruginya kinerja instrumen investasi yang dimiliki oleh Asbari. Namun kendati demikian dirinya menyebut bahwa hal tersebut tidak akan mempengaruhi operasional binsis karena masih terjaganya arus kas Asabri sebagi perusahaan persero.

Sonny menuturkan sepanjang 2019 total pendapatan kinerja premi Asabri jumlahnya masih lebih besar dari jumlah beban klaim. Pada 2019 total pendapatan Asabri dari premi senilai Rp 1,47 triliun. Sementara beban klaim hanya Rp 1,37 triliun.

Pada kesempatan yang sama, manajemen juga memaparkan upaya pemulihan terhadap penurunan nilai aset saham. Pertama, Asabri akan melakukan pemetaan aset yang bermasalah dan mengubah model investasi dari risk profile aggresive ke moderate.

Kedua, perseroan meminta tanggung jawab kepada Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro (Bentjok), di mana keduanya telah memberikan pernyataan kesanggupan untuk memenuhinya. Atas penurunan nilai aset saham senilai Rp 10,9 triliun, Asabri akan melakukan pemulihan melalui Heru senilai Rp 5,8 triliun dan Benny senilai Rp 5,1 triliun.

Sekedar untuk diketahui Heru adalah Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), sementara Benny Tjokro atau Bentjok adalah Dirut PT Hanson International Tbk (MYRX). Kedua investor pasar modal ini menjadi dua dari lima tersangka kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Keempat, Asabri akan meminta tanggung jawab atas kinerja manajer investasi yang performa kinerjanya buruk atau underperform. (OL-2)

BERITA TERKAIT