29 January 2020, 10:30 WIB

Wapres: Pendekatan Antaragama untuk Ciptakan Kerukunan Umat


Indriyani Astuti | Humaniora

KONFLIK global yang terjadi tidaklah cukup diselesaikan hanya dengan pendekatan politik dan militer. Oleh karena itu, diperlukan alternatif lain untuk menciptakan kerukunan, yakni melalui pendekatan keagamaan.

Hal itu disampaikan Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin ketika menerima pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Pati Djalal beserta jajarannya di Kantor Wapres, Jl. Merdeka Utara No. 15, Jakarta, Selasa (28/1)

Wapres menjelaskan politik, apalagi pendekatan militer tidak dapat digunakan untuk menciptakan kerukunan. Oleh karenanya pendekatan keagamaan, forum-forum, upaya-upaya komunikasi yang harus dikedepankan untuk menciptakan kerukunan.

"Menghadapi konflik global saat ini para pemuka agama tidak hanya selesai pada capaian rukun, tetapi bagaimana rukun bisa merukunkan,” ujar Wapres.

Baca juga: Program BPNT Diklaim Bisa Turunkan Angka Kemiskinan

Lebih lanjut Wapres mengatakan untuk membangun kerukunan diperlukan pilar yang kuat. Ia pun mencontohkan Indonesia memiliki empat pilar, yakni ideologi, yuridis, sosiologis, dan teologis.

"Untuk membangun kerukunan, saya mempunyai empat bingkai atau pilar. Pertama, yaitu Pancasila, UUD 1945. Kedua yuridis, yaitu dasar-dasar hokum. Ketiga sosiologis, yaitu kearifan lokal yang sudah dipunyai Indonesia," ujar Ma'ruf

"Dan keempat yaitu teologis, yaitu menyebarkan narasi-narasi kerukunan, dimulai dari majelis-majelis keagamaan, membangun komunikasi antarumat beragama,” imbuhnya.

Ke depan, Wapres berharap FCPI dapat mencakup semua agama, seperti Hindu, Budha, mengingat konflik yang terjadi di India dan Myanmar. Jadi, tidak hanya berfokus pada kerukunan agama Islam dengan Kristen.

Atas kontribusi FPCI, Wapres mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kinerja dan program-program yang telah dilakukan.

Sebelumnya, Dino Pati Djalal melaporkan kegiatan yang telah dilaksanakan FPCI, salah satunya ialah Project 1000 Abrahamic Circles. Program yang telah dimulai dan akan berlangsung selama 10 tahun ke depan ini, melibatkan 3.000 tokoh agama.

Ia menjelaskan program tersebut dilatarbelakangi keprihatinan dan kekhawatiran melihat situasi intoleran secara global.

Untuk itu, Dino memohon arahan dan doa restu Wapres agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan. Ia menjelaskan penyelesaian masalah intoleransi ialah dengan memperkuat pemahaman akar rumput tentang toleransi, bukan lagi kegiatan forum tingkat tinggi atau internasional karena tidak menyentuh sampai ke bawah. Karena itu, ia berharap melalui Project 1000 Abrahamic Circles ini mampu memperkuat dasar toleransi.

Senada, Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Romo Frans Magnis Suseno menyampaikan untuk mewujudkan toleransi dilakukan dengan komunikasi dan saling menghargai kebebasan beragama dalam menjalankan ibadah agamanya masing-masing.

“Hal ini dicontohkan bagaimana di Indonesia setiap agama dapat dengan damai menjalankan ibadah agama nya dengan baik, tanpa rasa takut dan tanpa kekhawatiran,” ucapnya.

Romo Magnis juga mendukung program FPCI dan mengharapkan program ini terus berkelanjutan demi terciptanya kedamaian di dunia.

Ia berharap fokus pada program tersebut betul-betul kepada akar rumput.

"Saling berkenalan, saling menghormati, saling menghargai dan menciptakan sinergi antar agama dan umat beragama lain, saya sangat mendukung program ini,” katanya. (OL-1)

BERITA TERKAIT