29 January 2020, 07:50 WIB

Sokong Pluralisme dari Akar Rumput


Indriyani Astuti | Politik dan Hukum

MELEMAHNYA hubungan saling menghormati antarpemeluk agama menjadi pemicu timbulnya ketegangan di masyarakat. Warga di akar rumput perlu kembali diajarkan untuk saling mengenal komunitas beragama dan cara hidup masing-masing.

Untuk itu, pendiri Foreign Policy of Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menginisiasi program 1.000 Abrahamic Circles atau Seribu Lingkaran Ibrahim yang menyasar akar rumput.

Anggota lingkaran itu mencakup tiga pemimpin atau tokoh agama dari Islam, Kristen, dan Yahudi. Agama-agama tersebut dipilih karena berasal dari satu ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim.

Mereka akan tinggal bersama-sama selama tiga minggu di tiap lingkungan anggota lingkaran seperti pesantren atau komunitas pendeta Kristen. Sejauh ini sudah ada tiga lingkaran yang dibentuk dari target 1.000 lingkaran.

Dino yang didampingi antara lain perwakilan dari Nahdlatul Ulama dan tokoh umat Katolik sekaligus budayawan Romo Magnis Suseno membeberkan kegiatan Seribu Lingkaran Ibrahim kepada Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Kantor Wapres, Jakarta, kemarin.

Ia menuturkan tidak hanya di Indonesia, di tingkat global juga terlihat hubungan yang memburuk di antara pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi. Hal itu ditandai dengan serangkaian kejadian teror yang menyasar rumah ibadah, di antaranya penembakan yang terjadi di masjid di Kota Christcruch, Serlandia Baru, pada Maret 2019.

Lalu bom yang meledak di Gereja Santo Antonius di Sri Lanka pada 21 April 2019 bertepatan dengan misa Paskah serta bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) pada 2018.

Mengutip survei PEW Research Center pada 2016, Dino menyebut pembatasan kebebasan beragama meningkat, baik yang dilakukan pemerintah maupun kelompok masyarakat. Studi yang dilakukan di 198 negara itu menunjukkan muslim dibatasi dan diganggu di 142 negara.

Selain itu, penganut kristiani dibatasi kebebasan beragama dan diganggu di 144 negara. Adapun orang Yahudi mengalami perlakuan buruk serupa di 87 negara.

Menurut Dino, Wapres Ma'ruf Amin mengapresiasi program Seribu Lingkaran Ibrahim. Wapres, terang Dino, mengatakan Indonesia punya peran sangat strategis untuk menjalin kerukunan tidak hanya secara nasional, tetapi juga global.

 

Kewajiban umat

Pada kesempatan yang sama, hadir pula Muhammad Nur Hayid dari Pesantren Al Anwar, Ploso, Pacitan, Jawa Timur. Peserta program Seribu Lingkaran Ibrahim itu menyampaikan, dari pengalaman hidup bersama, dialog dan kesadaran untuk menciptakan kedamaian antarumat bergama dapat diwujudkan.

"Untuk membangun kesadaran bahwa peace building di masa mendatang tidak hanya menjadi kewajiban para pemimpin, tapi juga seluruh komponen umat," ujarnya.

Selama tiga pekan para anggota Lingkaran Ibrahim tinggal di komunitas agama berbeda. Di Indonesia, perwakilan dari umat Katolik Sri Lanka, 'mondok' di NU Community di Lumajang, Jawa Timur. Mereka melihat keseharian santri dan Islam Nusantara dipraktikkan. Dengan begitu, anggapan mengenai islamofobia atau ketakutan berlebihan terhadap Islam dapat diluruskan.

Romo Magnis menilai sebisa mungkin program tersebut harus menyasar akar rumput. Dengan begitu, antarpemeluk agama bisa berkenalan, saling menghormati, saling menghargai, dan dapat bekerja sama sehingga bisa bersinergi. "Ini sesuatu yang cukup baru. Saya sangat mendukung," tuturnya. (P-2)

BERITA TERKAIT