29 January 2020, 06:51 WIB

Gempa Kuat Guncang Karibia Picu Evakuasi di Miami


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

GEMPA berkekuatan 7,7 pada Skala Richter mengguncang Karibia--antara Jamiaka dan Kuba--memicu peringatan tsunami singkat dan evakuasi kantor sejauh Florida, Amerika Serikat (AS).

Gempa melanda wilayah antara Jamaika, Kepulauan Cayman, dan Kuba pada kedalaman 10 km (6,2 mil), Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengatakan pada Selasa (28/1) waktu setempat.

Bangunan bergetar dan tremor terasa di seluruh Karibia, tetapi tidak ada laporan langsung tentang korban.

Beberapa kantor sementara dievakuasi di Miami dan beberapa bagian Jamaika.

Status peringatan oleh Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (PTWC) kemudian ditarik.

Baca juga: Republik Halangi Pemanggilan Bolton

PTWC awalnya mengatakan gelombang tsunami berbahaya mungkin terjadi di pantai yang berjarak 300 km (186 mil) dari pusat gempa.

Jarak tersebut termasuk bagian dari Belize, Kuba, Honduras, Meksiko, Kepulauan Cayman, dan Jamaika, ujarnya.

Namun dalam pembaharuan,, PTWC mengatakan, “Ancaman tsunami sekarang sebagian besar telah berlalu.”

Episentrum gempa, awalnya dilaporkan berkekuatan 7,3 sebelum ditingkatkan, adalah 125 km barat laut Lucea, Jamaika.

Guncangan dilaporkan di ibu kota Kuba, Havana, di Kingston, Jamaika, dan Miami--sekitar 708 km dari pusat gempa.

Ahli geologi USGS Ryan Gold mengatakan kepada Miami Herald, masuk akal getaran gempa dirasakan di Florida mengingat besarnya kekuatan gempa.

"Ini gempa yang sangat besar yang dapat menghasilkan banyak energi seismik," ujarnya.

Machel Emanuel, seorang dokter, mengatakan, "Saya berada di lantai dua sebuah gedung dan terjadi guncangan bangunan yang berkelanjutan. Saya merasa pusing. Pintu terbanting secara konsisten untuk sementara waktu."

Di Kepulauan Cayman, peringatan untuk menjauh dari daerah pantai dikeluarkan oleh pemerintah tetapi dihapus beberapa jam kemudian.

Mikhail Campbell, seorang petugas hubungan media polisi di Kepulauan Cayman, mengatakan kepada media dia belum mengetahui adanya laporan kerusakan serius. (BBC/OL-1)

BERITA TERKAIT