29 January 2020, 06:20 WIB

EPO-HyFc Buat Cuci Darah tidak Melelahkan


(Ifa/H-2) | Humaniora

OBAT paten Ephepoetin Alpha (EPO-HyFc) untuk terapi anemia pasien ginjal kronis buatan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) memasuki uji klinik fase 3. Jika tidak ada aral melintang, obat ini akan dirilis pada 2022 mendatang.

Selama ini, pasien gagal ginjal membutuhkan EPO yang harus disuntik sebanyak 3 kali dalam seminggu. Dengan pengembangan EPO-HyFc ini pasien bisa disuntik hanya sekali dalam dua minggu atau sebulan. Sehingga secara biaya bisa sangat membantu meringankan beban pasien anemia yang melakukan cuci darah.

"Harapannya dengan produk ini bisa digunakan lebih panjang. Jadi tadinya yang setiap kali cuci darah harus melakukan penyuntikan dengan produk lama, tetapi dengan produk ini bisa diperpanjang sampai hanya sebulan sekali," terang Presiden Komisaris PT Kalbe Farma Tbk Irawati Setiady di Jakarta, Jumat (24/1).

EPO-HyFc dikembangkan melalui anak usaha Kalbe-Genexine Biologics sejak 2016 lalu, bekerja sama dengan Genexine Korea. Uji preklinis, uji klinis fase 1, dan fase 2 telah dilalui dengan hasil yang diakui secara internasional.

Adapun fase 3 akan menguji apakah obat ini memiliki efektivitas dan aman untuk digunakan. Irawati mengatakan, uji klinis fase 3 secara global akan melibatkan 386 subjek dari 50 institusi yang terdapat di 6 negara, antara lain lndonesia, Australia, Taiwan, Filipina, dan Malaysia.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengapresiasi dan mendukung uji klinis fase 3 EPO-HyFc yang dikembangkan Kalbe Farma. "Ini merupakan tahapan penting untuk kemandirian obat di Tanah Air. Dengan obat yang dilakukan clinical trial di Indonesia berarti jaminan terhadap khasiatnya bagi pasien Indonesia harus jauh lebih baik dibandingkan produk obat di mana clinical trial tidak menggunakan pasien dari Indonesia," kata Penny.

Menurutnya, obat bioteknologi yang menyerap investasi besar ialah salah satu prioritas yang mendapat dukungan penuh pemerintah.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius mengatakan, setiap tahun pihaknya menganggarkan investasi sekitar Rp200 miliar-Rp250 miliar untuk melakukan riset kefarmasian, mulai dari produk kesehatan, obat, sampai nutrisi dan herbal.

"Kita jangan hanya menjadi pasar atau pemakai. Kita ingin bisa punya hasil yang lebih baik. Kalau bisa mengarah kepada paten. Step berikutnya kan ini paten," tandasnya. (Ifa/H-2)

BERITA TERKAIT