28 January 2020, 21:47 WIB

Batu Susun Kerajaan Galuh Lebih Tua dari Borobudur


Kristiadi | Humaniora

BATU susun situs sejarah Kerajaan Galuh berada di Kaki Gunung Sawal di Desa Sukaharja, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, diduga usianya lebih tua dari Candi Borobudur.

Situs yang tak jauh dari Situs Astana Gede, Kecamatan Kawali tersebut terletak di areal persawahan sekitar 5 kilometer dari perkampungan.

Penemuan batu tersebut, sampai sekarang sudah banyak dikunjungi warga tapi belum ada penelitian dari tim ahli Arkeologi.

"Dari awal sudah cukup jelas dan batu susun itu bisa dikategorikan sebagai sebuah situs, karena tersusunnya batu itu bukan alam tapi sudah ada unsur campur tangan manusia. Artinya, merupakan hasil karya cipta manusia dilihat dari bahan batu tersebut ternyata setiap rongga-rongganya ditemukan ada semacam bahan perekat atau pelapis sekilas seperti tanah dan kapur," kata ahli filologis dan Ketua Program FAK FIB dan sejarah UNPAD, Undang Darsa, Selasa (28/1).

Undang mengatakan, batu tersusun rapih itu memiliki sejarah dan bisa dikatakan sebagai bangunan Kerajaan Galuh. Karena, luas area batu tersebut berada di luas lahan 100 hektare panjang 2 kilometer dan ketinggian 200 meter dan terlihat sampai puncak bukit juga masih ditemukan sisa-sisa batu tersusun.

Namun, jenisnya batu tersebut merupakan campuran batu lempengan pipih besar tebal 5 sampai 10 cm dan berdiameter 1-3 meter tetapi di atas bukit batu pipih kecil seperti bahan tegel batu sekarang dengan tebal 2 -4 cm dan diameter beragam antara 1 sampai 20 cm.

"Untuk usia dari jenis bebatuan yang selama ini ditemukannya tersebut bisa lebih tua dari Candi Borobudur, dilihatnya dari bentukan dan ornamen batu yang didesign sederhana malah terkesan seperti zaman batu,'' katanya.

Dijelaskan Undang, bentukan batu ada yang setengah lingkaran diameternya 1 sampai 1,5 meter berdiri kokoh ke atas sekitar 5 sampai 10 meter tapi berbentuknya kotak diameter 1-1,5 meter dan tingginya bervariasi 3 sampai 30 meter.

Akan tetapi, bentuknya itu menjorok keluar seperti atap dan didesignnya mirip pintu gerbang kecil tinggi 3 meter dan lebar 2 meter dan luasnya lebih dari Candi Borobudur hingga usianya lebih tua.

Sementara itu, tokoh masyarakat penggiat Budaya dan Sejarah Sunda Anton Charliyan mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan peristiwa tersebut bisa terjadi dan pemerintah daerah harus turun tangan sesegera mungkin untuk menyelamatkan aset budaya sejarah ini. Karena, batu susun memiliki sejarah luar biasa dan mereka juga harus membentuk tim untuk mengadakan penelitian lebih lanjut.

"Kami meminta agar Polres Ciamis dan juga pemerintah daerah harus segera membentuk tim guna menyelamatkan aset budaya sejarah biar tidak rusak dan tidak sembarang di jamah para pengunjung,'' tegas mantan Kapolda Jawa Barat itu.

Karena, menurutnya, sekarang ini sudah mulai banyak berdatangan dan jika perlu para dinas pemerintahan secepatnya dipasang dulu pagar bambu di lokasi tertentu yang dianggap rawan dan jika perlu meminta pembatas rol police line dari Polisi mengingat pentingnya penyelamatqn situs tersebut. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT