28 January 2020, 17:32 WIB

Menkeu: Virus Corona Pengaruhi Perekonomian Global


Putra Ananda | Ekonomi

MENTERI Keuangan Sri Mulyani tidak menampik bahwa wabah Virus Corona yang melanda Provinsi Wuhan Tiongkok memiliki dampak buruk terhadap perekonomian global. Proyeksi ekonomi global 2020 yang semula positif perlahan mulai menunjukkan gejala pelemahan. Kondisi tersebut bisa berdampak pada perekenomian Indonesia.

"Seharusnya 2020 itu proyeksi positif akan terjaga tapi melihat perkembangan pada Januari tidak membuat happy terutama Coronavirus, geopolitik, politik Amerika Serikat (AS), ini tetap harus diantisipasi spill over (rembesan) ke dalam negeri," ujar Sri Mulyani di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (28/1).

Sri Mulyani menegaskan bahwa faktor dalam negeri seperti kondisi jasa keuangan bank maupun nonbank harus dijaga dan diantisipasi dalam menghadapi faktor global. Untuk itu, diperlukan sinergi lintas kementerian/lembaga seperti dengan Kementerian BUMN dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga tidak menimbulkan spill over negatif.

Menkeu menegaskan, perekonomian Indonesia tak terlepas dari faktor global. Perlambatan yang terjadi pada perekonomian global pun mempengaruhi harga komoditas, yang berdampak pada penerimaan negara.

“Perlambatan perekonomian global mempengaruhi turunnya perdagangan dan harga komoditas dunia di tahun 2019. Faktor eksternal juga mempengaruhi penurunan ekspor impor Indonesia," pungkasnya.

Namun kendati demikian, Menkeu optimis bahwa pertumbuhan ekonomi dalam negri masih bisa terjaga di tengah melemahnya perekonomian dunia. Pemerintah akan menjaga pertumbuhan ekonomi dalam negri diangka 5%. Selain itu, untuk tahun 2020 ini pemerintah telah mematok batas maksimal defisit ABPN sebesar Rp 307,2 triliun.

"Kita berharap 2020 positifisme terjaga. Kita akan antisipasi kalau defisit akan melebar lagi seperti yang terjadi di 2019," ungkapnya.

Selain itu, Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa inflasi pedapatan domestik bruto (PDB) yang terjadi di tahun 2019 senilai 2,72% merupakan capaian terendah sepanjang 20 tahun terakhir. Kemudian nilai tukar rupiah juga cenderung menguat di tahun 2019 dan pada tahun 2020 diperkirakan di kisaran Rp14.400/US$.

Lebih rinci, ia menjelaskan pada 2019 realisasi pendapatan negara mencapai Rp 1.957,2 triliun. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2018, realisasi pendapatan negara tahun 2019 tersebut masih tumbuh 0,7%.Pendapatan negara tersebut terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp 1.545,3 triliun, PNBP sebesar Rp 405 triliun dan hibah sebesar Rp 6,8 triliun.

Selanjutnya, total realisasi belanja negara mencapai Rp 2.310,2 triliun. Tumbuh 4,4% dari realisasinya di tahun 2018. Belanja ini terdiri dari belanja Pemerintah Pusat mencapai Rp 1.498,9 triliun atau tumbuh 3%.

"Kami ingin katakan bahwa tahun 2019 bukan tahun mudah, pelemahan ekonomi global mulai merembes ke domestik. Namun, daya tahan ekonomi kita tetap remakable. 2019 countercyclical akan tetap dijaga. Kebijakan pajak akan memberikan dukungan berupa restitusi tata kelola diperbaiki dan inventif perpajakan. Belanja produktif untuk berikan bantalan baik di desa maupun masyarakat, pembiayaan dijaga hati-hati dan akuntable," kata dia.

"2020 proyeksi positif akan terjaga meski perkembangan Januari tidak membuat happy terutama corona virus, geopolitik, politik AS, ini tetap harus diantisipasi spill over ke dalam negeri. Balance optimise tetapi tetap waspada. Space fiscal dan monitor tetap ada." (OL-4)

BERITA TERKAIT