28 January 2020, 05:40 WIB

Mengantisipasi Wabah Virus Corona Wuhan


Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair | Opini

HEBOH wabah virus korona jenis baru di Tiongkok sekarang ini mengingatkan kejadian 17 tahun lalu. Pada November 2002, muncul laporan awal merebaknya wabah SARS (severe acute respiratory syndrome, sindrom pernapasan akut) di Provinsi Guangdong, Tiongkok.

Barangkali untuk menjaga kepercayaan publik, awalnya pemerintah Tiongkok berusaha menutupi dan tidak melapor ke WHO. Namun, karena situasi makin genting, pemerintah Tiongkok akhirnya melapor ke WHO pada Februari 2003. Wabah berbahaya ini ternyata menyebar sangat cepat. Hanya dalam waktu setengah tahun, sampai Juli 2003, dilaporkan sudah ada 8.069 kasus dan 775 orang meninggal. Sedemikian hebatnya ancaman wabah ini sampai WHO menyatakan sebagai emergensi global.

Tujuh belas tahun kemudian, wabah serupa terulang lagi di Tiongkok, Desember 2019. Berkaca dari pengalaman 2002, pemerintah Tiongkok memberitahu WHO bahwa ditemukan beberapa kasus pneumonia di Kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei.

Pneumonia merupakan radang paru-paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, dan benda asing lain yang masuk ke saluran paru-paru. Disebutkan, virus penyebab pneumonia di Wuhan ini tidak sama dengan virus yang selama ini sudah dikenali. WHO lantas bekerja sama dengan pemerintah Tiongkok untuk melakukan langkah penanganan. Satu minggu kemudian pemerintah Tiongkok resmi mengonfirmasikan telah mengidentifikasi virus korona jenis baru dari kejadian di Wuhan ini.

Virus korona masih keluarga besar dengan virus flu biasa, juga virus yang lebih parah, seperti SARS dan MERS (middle east respiratory syndrom). Virus yang baru ditemukan di Wuhan ini sementara dinamakan novel corona virus atau 2019-nCoV.

Merebaknya virus baru ini menimbulkan kegemparan global. Penyebarannya sangat cepat sehingga membuat panik banyak negara. Sampai Senin (27/1), tercatat sudah ada 80 orang meninggal dunia. Ada 90 WNI yang masih tertahan di Kota Wuhan. Angka korban ini diyakini akan terus bertambah. Dalam hitungan minggu, virus baru ini menyebar ke puluhan provinsi dan melintas ke setidaknya 10 negara.

Kantor berita Xinhua melaporkan, pemerintah menetapkan status siaga level 1 di 30 provinsi.

Pada 24 Januari, dilaporkan pasien pertama AS yang terinfeksi virus 2019-nCoV di Washington. Situasinya makin dramatis saat dilaporkan seorang dokter di Tiongkok yang menangani wabah ini malah ikut meninggal dunia.

Studi dari London Imperial College dan Fakultas Kedokteran Universitas Hong Kong memperkirakan sekitar 1.300 hingga 1.700 orang terinfeksi selama minggu pertama Januari 2020 dan meningkat ke 4.000 kasus seminggu kemudian.

Para ilmuwan di Northeastern University di Boston memperkirakan 5.900 terinfeksi sampai 23 Januari. Ahli virologi Universitas Hong Kong, Guan Yi, yang juga anggota dari tim yang dulu menemukan virus SARS, mengatakan bahwa virus 2019-nCoV ini merupakan epidemi baru yang tampaknya sulit dikendalikan dan mungkin skalanya 10 kali lebih besar daripada epidemi SARS di 2003.

Sifat virus dan dampaknya

Jika melihat sifat genetika dan protein, virus 2019-nCoV dari Wuhan ini sangat potensial menular ke manusia. Seperti pada SARS, sifat virus 2019-nCov ini juga mampu untuk mengikat protein yang ditemukan di permukaan sebagian besar sel paru-paru manusia. Karena inilah virus tersebut bisa menyebabkan pneumonia (radang paru-paru), seperti sifat virus SARS, walaupun levelnya lebih rendah.

Meskipun demikian, kadar risiko dan dinamika penularan 2019-nCoV antarspesies atau manusia ke manusia ini tetap dipengaruhi oleh faktor lain, seperti respons imun inang, kecepatan virus berkembang biak di dalam paru-paru manusia, dan potensi mutasi yang mungkin membuat virus lebih ganas atau menular.

Di lihat dari asalnya, sejauh ini belum diketahui binatang apa yang menjadi sumber virus 2019-nCoV meskipun satu penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis genetik virus, dugaan sementara berasal dari ular. Pada kasus SARS, virus ditransmisikan ke pekerja restoran yang membeli dan menyembelih musang hidup di pasar hewan hidup Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong.

Membatasi penyebaran

Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke dua di dunia, Tiongkok bergerak cepat. Minggu pertama Januari, Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit segera membentuk satuan tugas manajemen untuk menangani insiden ini dan langsung mengaktifkan sistem tanggap darurat.

Merujuk pada 2003 ketika pemerintah Tiongkok menghentikan epidemi SARS, beberapa hal penting segera dilakukan. Prinsipnya ialah tindakan pengendalian infeksi dengan berfokus untuk menemukan individu yang menderita demam, kemudian menempatkannya dalam karantina wajib. Dengan cara mengisolasi orang yang terpapar, virus itu berhenti menyebar.

Kemudian segera dilakukan langkah di lapangan untuk menghentikan laju penyebaran virus 2019-nCoV. Langkah awal menghentikan aliran pergerakan orang yang terinfeksi lewat karantina dan isolasi. Transportasi penumpang harus dipantau atau dibatasi.

Sebagai informasi, pasar hewan tempat virus 2019-nCoV diduga muncul terletak dekat salah satu stasiun kereta kota, tempat pemberhentian beberapa kereta berkecepatan tinggi. Diasumsikan bahwa orang-orang dan hewan-hewan hidup, berjalan jarak dekat. Maka itu, sangat mungkin ikut menyebarkan virus ke kota-kota di seluruh Tiongkok. Maka, pihak berwenang mendirikan stasiun pemeriksaan demam di setiap terminal udara, bus, dan kereta.

Terhadap keluarga pasien virus 2019-nCoV diwajibkan uji untuk infeksi dan dipantau secara ketat. Sejauh ini pihak berwenang Tiongkok sudah melacak ratusan kontak dekat pasien yang dikenal. Kompleks perumahan apartemen dan hotel yang diketahui telah menampung orang yang terinfeksi virus 2019-nCoV juga diperiksa. Dilaporkan juga, pemerintah Tiongkok menyiapkan fasilitas khusus untuk mengarantina pasien yang sedang dalam pengawasan suhu badannya.

Antisipasi kita

Dari sisi ekonomi, wabah ini berdampak luar biasa. Bank Dunia memperkirakan kerugian global akibat wabah virus 2019-nCoV ini sekitar US$54 miliar. Pariwisata dan perdagangan Tiongkok pasti sangat terpukul. Mengacu gambaran di Tiongkok, maka tidak mustahil kejadian wabah virus jenis baru ini juga bisa terjadi di Indonesia. Tiongkok yang kekuatan ekonominya kedua terbesar dunia saja kedodoran menghadapi wabah ini, apalagi Indonesia yang ekonominya tidak sekuat Tiongkok.

Maka itu, sebaiknya ada perencanaan mitigasi untuk menghadapi jika kasus serupa muncul di Indonesia. Sejauh ini langkah paling penting untuk menghentikan coronavirus ialah dengan menahan virus agar tidak menyebar lewat fasilitas medis yang memadai. Ini berkaca pada saat penanganan MERS dan SARS yang menyebar melalui fasilitas medis yang tidak siap. Sangat diperlukan untuk mengadakan pelatihan pengendalian infeksi dan mengajarkan staf medis untuk bekerja dalam tim terpadu.

Panduan penanganan harus segera disusun. Misalnya, memastikan bahwa semua alat pelindung yang terkontaminasi bisa dilepas dengan aman tanpa kontak dengan kulit, wajah, mata, atau tangan. Juga, perlu mendirikan semacam fasilitas khusus untuk pemeriksaan demam di luar fasilitas yang sudah ada, menyaring calon pasien. Selain itu, mengantarkan penderita demam ke jalur masuk yang terpisah dari pasien lain serta sederet langkah teknis lainnya.

WHO memang baru sebatas menyatakan bahwa wabah virus 2019-nCoV ini darurat di Tiongkok, tapi belum menjadi darurat global. WHO juga merekomendasikan beberapa langkah praktis dan teknis untuk mencegah penularan wabah ini. Di antaranya, menghindari kontak dekat dengan penderita demam dan batuk, sering mencuci tangan dengan sabun atau air berbasis alkohol. Lalu penderita jika batuk atau bersin, wajib gunakan masker, jika menderita demam, batuk, dan sekaligus sesak napas, harus segera periksa ke dokter dan seterusnya.

Akan tetapi, tidak ada salahnya jika pemerintah Indonesia segera menyusun perencanaan mitigasi terhadap ancaman penyakit baru itu. Misalnya, memasukkan virus 2019-nCoV sebagai infeksi kelas B. Namun, dalam operasional memperlakukan virus itu sebagai infeksi kelas A, yang berarti wajib karantina. Barangkali ide ini dianggap ekstrem dan ada konsekuensi biayanya, tapi sangat penting jika dipandang sebagai langkah darurat untuk menghentikan dan mencegah penyebaran virus berbahaya ini.

Di sisi lain, kita mempunyai Lembaga Eijkman dan Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga yang dikenal sebagai lembaga riset molekuler kelas dunia. Juga, ada BUMN Biopharma yang sampai hari ini memproduksi massal berbagai vaksin dengan standar WHO. Lembaga-lembaga hebat ini bisa sinergi untuk segera melakukan riset vaksin penangkal virus korona dan segera memproduksinya.

Dengan reputasi andal kedua lembaga itu, tidak tertutup kemungkinan Indonesia nanti bisa membantu WHO dengan vaksin produksi Eijkman dan Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga bersama Biopharma.

Tentu masih ada kebijakan dan metode lain yang bisa saling melengkapi agar kita lebih siap menghadapi kemungkinan masuknya virus korona ini ke Indonesia.

BERITA TERKAIT