27 January 2020, 15:40 WIB

Menjajal Energi Hijau Biomassa Pelet Kayu di Subang


Rosmeri Sihombing | Weekend

ATI Rohaeti, warga Desa Pada Asih, Kampung Cipancuh, Kelurahan Padaasih, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang mengaku sudah sebulan ini kesulitan memasak. Bahan bakar andalannya, yakni kayu bakar, cenderung basah karena hujan.

Asih sebelumnya sempat menggunakan gas. Namun harga gas yang menjadi Rp25 ribu membuatnya kewalahan hingga memilih menjual tabung gas LPG 3kg miliknya. Akibatnya ia harus bertahan menggunakan kayu bakar meski memiliki risiko kesehatan akibat polusi asapnya.

Namun kini kesulitan Asih dan warga lainnya mulai mendapatkan solusi. Baru-baru ini di desa tersebut diperkenalkan biomassa pelet kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Bantuan itu datang dari pabrik pelet kayu yang tidak jauh lokasinya.

"Sore ini saya langsung pakai kompor ini untuk masak nasi dan air. Senang sekali. Rumah jadi ndak berasap kalau masak, dan juga cepat. Saya akan masakin anak sebelum berangkat sekolah, biasanya kalau pakai kayu bakar saya masak setelah mengantar anak ke sekolah", kata Ati dalam rilis yang diterima Media Indonesia, Senin (27/1).

"Terima kasih ada bantuan kompor pelet kayu ini, pabriknya juga dekat, dan mudah-mudahan nanti ada bantuan untuk beli pelet kayunya", kata Ati.

Secara keekonomian, harga pelet kayu untuk ekspor berkisar US$ 100 - 200 per ton, sedangkan harga keekonomian di gudang pabrik untuk keperluan domestik dibanderol sekitar Rp 1.500 sampai Rp 1.700 per kg tergantung pada jenis bahan bakunya, sedangkan harga di konsumen berkisar antara Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per kg bergantung pada jarak transportasi, desain dan penyediaan burner / tungku berikut instalasinya serta jasa pemeliharaan dan suku cadang.

Uji coba penggunaan EBT (Energi Baru Terbarukan) Biomassa dalam bentuk pelet kayu merupakan program rintisan PT Energy Management Indonesia (Persero).

"Ini adalah bentuk rintisan dari salah satu program kerja EMI, namanya program Multiple Household-Fuel Options, yaitu pengembangan dan penyediaan pellet kayu sebagai energi alternatif untuk rumah tangga dan industri kecil", kata Dirut PT EMI (Persero) Andreas Widodo.

Dijelaskannya, uji coba pellet kayu untuk memasak di rumah tangga merupakan rintisan program Multiple Household-Fuel Options. Diterangkan juga bahwa program ini adalah upaya EMI sebagai BUMN EBTKE (Energi Baru Terbarukan Dan Konversi Energi) untuk mendorong pemanfaatan biomassa yang bersumber dari sumber-sumber lokal (setempat) dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi bersih bagi masyarakat. (RO/M-1)

BERITA TERKAIT