27 January 2020, 07:20 WIB

Mendorong Kebiasaan Ngopi Lebih Hijau


Fathurrozak | Humaniora

INDUSTRI kopi yang bertumbuh juga memunculkan masalah limbah. Di Inggris produksi limbah gelas kopi mencapai 30 ribu ton setiap tahun. Pemerintah Inggris mengambil langkah-langkah untuk mengurangi jumlah limbah gelas kopi. Sejumlah kedai kopi di London, misalnya, menyediakan kemasan yang dapat digunakan kembali, bahkan 100% bisa didaur ulang.

Caravan Coffee Roasters, misalnya, menggunakan 100% kemasan yang dapat diolah menjadi kompos atau mengimbau para pelanggan mereka untuk membawa gelas sendiri. Kedai itu juga tidak menyediakan sedotan. Selain memerangi limbah gelas kopi sekali pakai, beberapa pihak memanfaatkan ampas kopi untuk bisa didaur ulang. Salah satunya dilakukan Jerman. Nat-2 meluncurkan lini produk berbasis kopi yang menampilkan sneaker unisex dari sisa kopi. Sneaker cokelat 100% vegan, terbuat dari biji, tanaman, dan bubuk kopi daur ulang.

Perusahaan asal Jerman lain, Kaffeeform, juga memproduksi cangkir kopi, mug, dan lapik yang terbuat dari bubuk kopi bekas.

Dalam merespons kebiasaan yang lebih ramah lingkungan, Festival Kopi Media Indonesia yang berlangsung pada Senin-Kamis (27-30 Januari) juga menerapkan beberapa kebijakan guna mendorong minimnya timbunan limbah.

"Pelan-pelan Media Group berusaha menjadi 100% zero waste, atau bebas sampah. Seluruh objek bisa dimanfaatkan kembali. Pada festival kali ini, kami anjurkan bukan hanya ke tenant, melainkan juga pengunjung untuk menaati kebijakan tersebut. Jadi, bebas sampah. Untuk para tenant, apabila menggunakan kemasan, sudah memenuhi kategori recycle, misal gelas yang mereka pakai sudah PP5," ungkap Ketua Panitia Festival Kopi Media Indonesia, Rio Waas, di Jakarta, Jumat (24/1).

"Jadi, kemasan yang digunakan harus masuk ke kategori recycle. Untuk para pengunjung, disarankan bawa tumbler dan menikmati kopi dengan alat sendiri. Yang paling tidak boleh ialah penggunaan plastik sekali pakai, kantong plastik tidak boleh," lanjut Rio.

Sejak Agustus 2019, Media Group juga memulai beberapa gerakan menuju bebas sampah. Terakhir ialah pada Desember, minyak jelantah yang dihasilkan diolah menjadi biodiesel B-100.

"Tentu sangat tidak gampang di dunia yang penuh dengan plastik sekarang ini. Namun, segala tindakan diusahakan agar ramah lingkungan. Pertama, Agustus 2019 sampah organik kita tidak dilempar lagi ke Bantargebang, tetapi dijadikan makanan untuk belatung, hasilnya akan jadi kompos, sabun," paparnya.

Dalam rangkaian Festival Kopi Media Indonesia, selain mendorong kebiasaan para pembuat dan penikmat kopi untuk lebih hijau, dilakukan kampanye kreatif. Pada hari kedua, akan diumumkan para pemenang lomba vlog zero waste bagi anak-anak. Pada hari ketiga juga masih dilakukan kampanye bebas sampah dalam tajuk Jejak Hijau yang bertujuan untuk sosialisasi dan kampanye menuju zero waste. (Jek/X-7)

BERITA TERKAIT