27 January 2020, 02:15 WIB

Krisis Lahan Sawah Perlu Ditangani Serius


Benny Bastiandy | Nusantara

LUAS area sawah di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kian menyusut akibat alih fungsi lahan. Semula, luas sawah baku di wilayah terluas kedua di Jawa dan Bali itu mencapai 66.476 hektare (ha), tetapi sekarang menyusut menjadi 55.553 ha.

"Memang cukup dilematis. Di satu sisi kita membuka investasi untuk pembangunan di berbagai tempat, seperti perumahan, pertokoan, jalan, dan bangunan lainnya. Namun, di sisi lain, hal itu menggerus lahan pertanian khususnya sawah," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sudrajat, kemarin.

Penyusutan lahan sawah baku di Kabupaten Sukabumi diketahui setelah ada Surat Keputusan Menteri ATR/BPN Nomor 399/Kep-23.3/x/2018 Tahun 2018 tentang Penetapan Luas Baku Sawah Nasional.

Terkait dengan penyusutan lahan sawah itu, menurut Sudrajat, perlu ada win-win solution untuk kondisi lahan pertanian sekarang. "Harus ada win-win solution agar pembangunan dan investasi tidak mengurangi keberadaan lahan sawah di Kabupaten Sukabumi," ujarnya.

Karena itu, hal yang perlu dilakukan antara lain mengimbau semua pihak agar secara bersama-sama mengawasi dan melindungi lahan sawah, terutama yang produktif, supaya tidak dialihfungsikan.

"Strategi yang digunakan harus bersifat instruksional dengan melibatkan seluruh stakeholder pertanian," tegasnya.

Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi pada periode Oktober 2019-Januari 2020 menargetkan luas lahan tanam padi bisa mencapai di kisaran 84.130 ha. Hingga pertengahan Januari 2020, baru terealisasi seluas 58.430 ha.

Sawah baru

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) bersama pemerintah kabupaten di wilayah itu menargetkan hingga tahun depan luas sawah yang akan digarap mencapai 25.000 hektare.

Gubernur Babel Erzaldi Rosman Djohan mengatakan, untuk saat ini tidak akan ada lagi upaya mencetak sawah baru, tetapi lebih memanfaatkan dan mengoptimalkan sawah yang sudah ada.

"Kita menargetkan pada 2021 akan menyelesaikan clear and clean sekaligus memanfaatkan sawah-sawah yang sudah dicetak hingga 100%, yakni kurang lebih 25.000 hektare, yang sekarang efektifnya baru 9.500 hektare," kata Erzaldi belum lama ini.

Dia mengungkapkan hal itu akan menjadi tantangan bersama yang harus dihadapi semua pihak sekaligus menjadi salah satu strategi dalam menginovasikan diri pada sektor pangan, khususnya komoditas beras.

"Sekarang banyak yang turun, tetapi pada komoditas yang memberikan harapan, kita dorong terus untuk dikembangkan. Salah satunya kita ingin mandiri di sektor pangan, yaitu mengembangkan persawahan kita agar kita menghasilkan beras dari negeri kita sendiri," jelasnya.

Sementara itu, untuk menyelamatkan tanaman padi dari serangan hama tikus, Kepala Desa Pasirmulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rosadi Sastra Setia memanfaatkan musuh alami hewan pengerat tersebut.

Mereka menggunakan burung hantu untuk membasmi tikus-tikus tersebut. Saat ini sedikitnya ada 50 burung hantu di Desa Pasirmulya. (RF/CS/DW/N-3)

BERITA TERKAIT