26 January 2020, 09:40 WIB

Bakamla Menggiriskan


Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia | Weekend

SETELAH dinobatkan sebagai Raja Alengka, Prabu Dasamuka mencanangkan program Alengkadiraja. Ini proyek gila dengan target menjadikan Alengka sebagai negara superpower atau adikuasa. Negara adil dan makmur yang menguasai minimal dua pertiga seisi jagat. 

Untuk mendukung ambisinya tersebut, Dasamuka memperkuat angkatan bersenjata di darat, udara, dan laut. Selain sebagai kekuatan untuk menganeksasi dan mengoloni negara-negara sasaran, angkatan bersenjata yang kuat itu juga untuk alat pertahanan dan keamanan.

Di setiap matra, bidang kekuatan pertahanannya dibuat berlapis-lapis. Misalnya di laut, pengamanannya bukan hanya di wilayah kedaulatan negara, yakni 21 mil dari garis pantai, melainkan juga hingga ke zona ekonomi eksklusif (ZEE) sejauh 200 mil laut dari bibir pantai. Bahkan, di dalam laut pun dibangun pertahanan yang amat kuat.

 

Tiga raksasa penjaga laut

Alkisah, Raja Alengka Prabu Sumali lengser keprabon karena lanjut usia. Sebagai gantinya, ia mengangkat cucunya, Dasamuka alias Rahwana, sebagai penguasa tertinggi di Alengka. Dasamuka ialah putra sulung Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa dari pertapaan Girijembatan.

 

 

 

 

Ilustrasi MI

 

Dasamuka memiliki tiga adik, yakni Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Gunawan Wibisana. Dari empat bersaudara itu, hanya Wibisana yang berwajah normal dan tampan, sedangkan ketiga kakaknya bermuka raksasa.

Sebagai raja, Dasamuka sangat serius mengurus negara. Dalam hal menjaga kedaulatan, tidak ada kompromi. Siapa saja yang mengganggu, menyusup, atau melanggar kedaulatan negara langsung diganyang.

Secara geografis, negara Alengka dikelilingi lautan luas. Seluruh wilayahnya berpantai. Oleh karenanya, Dasamuka memiliki perhatian penuh terhadap wilayah laut dengan membangun pertahanan yang rapat serta kuat yang dipimpin para 'jenderal' sakti mandraguna.

Di pertahanan laut paling luar, pasukan penjaga wilayah zona ekonomi ekslusif dipimpin Ditya Kala Garulangit. Kemudian, pasukan pengaman dekat garis pantai diketuai Ditya Kala Wilkataksini, sedangkan pasukan yang bertugas mengamankan di dalam hingga dasar laut dikomandani Ditya Kala Yuyurumpung.

Dalam seni perkeliran, Garulangit berwujud raksasa berbadan tinggi besar dan bertampang mengerikan. Matanya merah, mulutnya sangat lebar dengan deretan taring mingis-mingis (tajam) bak belati.

Garulangit dikenal pintar mendeteksi musuh yang mencoba memasuki wilayah Alengka dari wilayah udara di atas laut. Itu karena matanya tajam dan telinganya peka mendengar apa pun meski itu jaraknya sangat jauh. Bahkan, ia bisa melihat apa pun yang melayang berselimut awan.

Sementara itu, kehebatan Wilkataksini menjaga wilayah laut dikisahkan ketika ia menangkap basah Anoman. Kala itu, wanara seta (berbulu putih) tersebut sedang terbang di atas lautan dalam upaya mendekati pantai Alengka.

Pada saat itu, Anoman sebagai duta Rama mengemban misi memastikan keberadaan Dewi Sinta, istri Rama, di Alengka. Kabar yang ia terima, Sinta diculik Dasamuka dan kemudian ditempatkan di Taman Argasoka yang terkenal indah di kompleks Istana Alengka.

Anoman tidak mengetahui bahwa dirinya telah tertangkap 'radar' Garulangit dan dilumpuhkan. Bahkan, Anoman juga tidak menyadari bahwa dirinya tertelan dan kemudian terpenjara dalam lambung Garulangit. Sebelumnya, Anoman hanya merasa ada angin puting beliung yang kemudian menggulungnya hingga dirinya terhempas dalam gua yang gelap gulita.

Nyaris mirip Garulangit, penjaga pantai Wilkataksini juga tidak kalah mengerikan. Bila Garulangit lebar mulutnya digambarkan seolah sampai menggapai langit, sedangkan Wilkataksini bermuka seperti buaya raksasa dengan banyak taring yang tidak beraturan.

Bila musuh bisa lolos dari cengkeraman Garulangit, ia dipastikan akan berhadapan dengan Wilkataksini. Raksasa ini juga memiliki kemampuan menguntal mentah-mentah. Taring-taringnya tidak berfungsi mencacah, tetapi menjepit setiap mangsa yang kemudian disantapnya utuh-utuh hingga hanyut dan larut dalam perut.

Garulangit dan Wilkataksini memiliki kewenangan mengeksekusi musuh. Jadi, keduanya bukan penjaga laut dan pantai yang hanya melaporkan kepada raja setiap menemukan pelanggaran yang dilakukan pihak lain. Keduanya diberi hak langsung menghajar siapa pun yang menyusup.

Berbeda dengan keduanya, Yuyurumpung beroperasi bak kapal selam. Wilayah tugas dan tanggung jawabnya pun tidak terbatas pada batas kedaulatan negara atau zona ekonomi ekslusif, tetapi hingga lautan lepas.

Kesaktian Yuyurumpung ini terceritakan dalam lakon Rama Tambak. Ini episode long march Rama dengan seluruh prajurit wanara Goa Kiskenda dari daratan Maliawan menuju Alengka. Mereka membuat tambak (bendungan) raksasa di atas Samudra Hindi.

Ceritanya, siang-malam ribuan wanara yang dipimpin Narpati Sugriwa bergotong royong membangun tambak dalam suasana sukaria. Awalnya, pembangunan yang memanfaatkan material batu dan tanah serta batang pohon besar-besar berjalan mulus. Tidak ada gangguan. Maka, hanya dalam beberapa hari, jembatan sudah mengular ratusan meter.

Namun, pada hari-hari berikutnya, panjang tambak tidak bertambah. Malah, tambak yang sebelumnya kukuh berdiri, banyak bagian yang longsor atau roboh dan hanyut tenggelam ke dasar laut.

Siapa di balik peristiwa penghancuran tambak itu? Dialah Yuyurumpung. Prajurit Alengka ini bergerak di wilayah musuh dari dalam lautan. Ia tahu bahwa tambak dibuat sebagai jalan menyeberang ke Alengka. Maka, berdasar diskresi yang dimiliki, Yuyurumpung langsung bertindak.

 

Memberikan efek gentar

Itulah cerita singkat badan keamanan laut (bakamla) Alengka di bawah rezim Dasamuka. Ini bukti Dasamuka benar-benar mengurus wilayah lautnya. Tiga raksasa menggiriskan itu merupakan gambaran tentang keseriusan negara menjaga harkat dan martabat negara.

Tidak untuk mencontoh Dasamuka yang dicap sebagai raja ambisius, tetapi dari sisi kebijakannya menjaga kedaulatan negara bisa dijadikan renungan atau inspirasi. Di bawah kepemimpinannya, negara benar-benar hadir di setiap sudut wilayah negara.

Eksistensi Garulangit, Wilkataksini, dan Yuyurumpung yang tanpa kompromi memberikan deterrence effect (efek gentar) bagi siapa pun yang bermaksud bermain-main dengan Alengka.

Di sisi lain, ketiganya merupakan simbol tentang pengabdian dan pengorbanan terhadap bangsa dan negara. Ini selaras dengan peribahasa sedumuk bathuk senyari bumi ditohi pati, demi harga diri serta kedaulatan bangsa dan negara, meski hanya sejengkal tanah, selebar dahi sekalipun, harus dibela hingga mati. (M-2)

BERITA TERKAIT