24 January 2020, 18:15 WIB

Risiko Kematian Manusia Akibat Korona Virus Rendah


Atalya Puspa | Humaniora

DOKTER Spesialis Paru RS Persahabatan, Erlina Burhan, mengungkapkan novel coronavirus (2019-nCOV) yang berasal dari Wuhan, Tiongkok sebenarnya merupakan virus biasa. Dirinya juga menyebut, risiko kematian akibat virus ini tergolong rendah.

"Berita baiknya bahwa fatailtynya rendah. Kalau dibanding flu burung, 70% meninggal, SARS di atas 60%, MERS juga sekitar 50%. Sementara ini 2019-nCOV sampai saat ini ya, gak sampai 5% kematiannya," kata Erlina di Kantor Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jakarta Pusat, Sabtu (24/1).

Baca juga: MPR Desak Pemerintah Terbitkan Travel Warning Terkait Corona

Data terbaru menyebutkan, per 23 Januari, sebanyak 830 kasus manusia ternjangkit 2019-nCOV. Sementara, 25 diantaranya meninggal dunia. Erlina juga menyatakan, setelah diteliti, sebagian besar pasien yang meninggal akibat 2019-nCOV memiliki riwayat penyakit lainnya atau, sudah berusia lanjut.

"Kematian juga dikatakan tidak berkaitan langsung dengan virus ini, tapi ada penyakit penyerta yang sudah ada pada pasien. Diabetes, gagal ginjal, artinya adalah kelompok yang imunitasnya rendah," ungkapnya.

Dirinya mengungkapkan, meskipun belum ditemukan obat maupun vaksin yang dapat membunuh, namun hadirnya 2019-nCOV dapat diredakan dengan mengobati gejala simptomatiknya.

"Kita mengobatinya secara simptomatik. Diatasi demamnya yang jadi masalah gagal nafas yang membutuhkan bantuan nafas. Tata laksananya harus dilakukan dengan benar," ucapnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT