24 January 2020, 14:30 WIB

Kepala BPPT Ingin TMC Jadi Ekosistem Mitigasi Cuaca Ekstrem


 Ihfa Firdausya | Humaniora

KEPALA Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menilai Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) harus menjadi bagian ekosistem mitigasi dampak cuaca ekstrem. Menurutnya, untuk menguatkan ekosistem ini, diperlukan peran berbagai stakeholder.

"Kita memerlukan tindak lanjut teknologi TMC agar dia tidak hanya berjalan pada saat kita sudah terdampak banjir, misalnya," tuturnya saat ditemui di Gedung BPPT, Jakarta Pusat, Jumat (24/1).

Salah satu tindak lanjut tersebut adalah penggunaan Artificial Intelegence atau AI dalam operasi TMC. Hal ini sedang disiapkan oleh BPPT.

"Sistemnya sudah kita adakan, sekarang tinggal bagaimana programing-nya dan mengolah data-data tersebut, yang datang dari BMKG, dari LAPAN, itu kita integrasikan," jelas Hammam.

"Sehingga dalam operasi TMC, misal, oh pada hari ini kamu terbang sekian sortie, sekian banyak garam, harus ditebar di daerah ini karena diberi warning oleh sistem AI itu," imbuhnya.

Dia menjelaskan, TMC untuk mencegah banjir dilakukan dengan menghadang awan yang berpotensi menimbulkan hujan ekstrem di dataran.

"Biasanya awan itu bergerak di sebelah barat Jabodetabek, Selat Sunda. Jadi ketika awannya ada di atas Selat Sunda, itu langsung kita semai garam. Kita harapkan hujannya turun di Selat Sunda itu," jelasnya

"Kalau sudah turun di Selat Sunda, meskipun awan itu tidak habis di Selat Sunda dan dia masih bergerak ke Jabodetabek, tapi intensitas hujan yang jatuh di sini tidak deras sehingga bisa mengurangi risiko kebanjiran," imbuhnya.

Baca juga: Hadapi Ancaman Banjir, Eskalasi Operasi TMC Ditingkatkan

Hammam juga berharap operasi TMC bisa digunakan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau.

"Pencegahan ini adalah dengan membangun sistem yang lebih baik, prediktif modeling.

Harapan saya sebelum terjadinya hotspot di Riau nanti di bulan Maret, TMC sudah dilaksanakan sehingga kita akan membasahi lahan-lahan gambut atau hutan di sana supaya mereka cukup basah dan tidak berpotensi munculnya titik api," ungkapnya.

Oleh karena itu, peran berbagai stakeholder dibutuhkan agar TMC bisa menjadi suatu ekosistem yang kuat dalam mitigasi dampak cuaca ekstrem.

"Karena kalau kita melaksanakan TMC atau rekayasa cuaca untuk mitigasi banjir, itu melibatkan banyak stakeholder. Ada BNPB, BMKG yang memberikan data-data prakiraan, ada TNI AU yang menyediakan pesawat udara. Jadi ekosistem ini akan melibatkan banyak stakeholder supaya ke depannya kita bisa lebih baik," tandasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT