24 January 2020, 14:11 WIB

Bank Mandiri Catat Laba Bersih Rp27,5 Triliun


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

PT Bank Mandiri (persero) Tbk mencatatkan laba bersih di 2019 mencapai Rp27,5 triliun atau tumbuh 9,9% dari akhir 2018. Capaian tersebut disokong oleh pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 10,7% yoy atau setara Rp907,5 triliun di 2019.

Atas hasil itu, perseroan mencatat pendapatan bunga bersih hingga Rp59,4 triliun atau naik 8,8% yoy dibanding 2018. Mandiri juga berhasil memperbaiki kualitas kredit sehingga rasio non performing loan (NPL) gross turun 42 poin basis menjadi 2,33% dibanding Desember 2018.

Hal itu berpengaruh positif kepada biaya cadangan kerugian penggunaan nilai (CKPN) yang menurun hingga -14,9% yoy menjadi Rp12,1 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri, Royke Tumilaar memaparkan, konsistensi perseroan untuk mengutamakan prinsip pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan Mandiri di 2019.

Selain itu, inovasi layanan berkelanjutan melalui otomatisasi dan digitalisasi juga menjadi hal yang memberikan dampak positif pada kinerja perseroan.

"Dalam penyaluran kredit, misalnya, kami senantiasa berpatokan pada kajian sektor guideline dan assessment karakter perusahaan yang ketat untuk memastikan pemenuhan kewajiban oleh calon debitur. Kami juga berusaha menjaga komposisi portofolio segmen wholesale dan retail (bank only) yang saat ini di kisaran 65% dan 35% agar dapat memberikan return yang optimal," kata Royke dalam konferensi pers pemaparan kinerja Bank Mandiri, Jumat (24/1).

Ia menambahkan, portofolio perseroan (bank only) di segmen wholesale hingga kuartal IV 2019 mencapai Rp516,4 triliun atau tumbuh 9,3% yoy. Sedangkan di segmen retail tumbuh 11,9% atau sebesar Rp275,9 triliun yoy.

Capaian segmen wholesale didukung oleh kredit korporasi dengan kontribusi mencapai Rp329,8 triliun. Sementara di segmen retail, kredit mikro dan kredit konsumer menjadi penyokong utamanya dengan capaian masing-masing Rp123,0 triliun dan Rp94,3 triliun.

Royke menuturkan, kredit korporasi perseroan tumbuh dikisaran 7,7% yoy dan penyaluran kredit mikro naik 20,1% yoy.

"Sementara di kredit konsumer yang akhir tahun 2019 tumbuh 7,9% YoY, bisnis kartu kredit dan kredit kendaraan bermotor (auto loan) menjadi penyumbang terbesar dengan laju ekspansi masing-masing 20,1% YoY menjadi Rp13,8 triliun dan 9,6% YoY menjadi Rp34,6 triliun," ujarnya.

Baca juga: Kredit BRI Tembus Rp908,88 Triliun

Lebih lanjut, Bank Mandiri juga disebutnya tetap menjaga komposisi kredit produktif. Contohnya ialah kredit investasi dan modal kerja dengan porsi yang mumpuni mencapai 77,4% dari total portofolio.

"Pada akhir tahun lalu, penyaluran kredit investasi tercatat mencapai Rp282,6 triliun dan kredit modal kerja sebesar Rp330,3 triliun," terang Royke.

Bank Mandiri, lanjutnya, juga ikut berkontribusi pada pembangunan nasional. Hal itu dibuktikan dengan penyaluran kredit ke sektor infrastruktur hingga Rp208,9 triliun atau tumbuh 14,6% yoy. Kredit itu tersalurkan pada sektor tenaga listrik, transportasi, migas hingga energi terbarukan.

Sementara di program Kredit Usaha Rakyat (KUR), perseroan berhasil mencatat penyaluran Rp25,02 atau mencapai 100,09% dari target 2019 dengan penerima KUR mencapai 310.987 debitur. Dari jumlah itu, 50,10% diantaranta disalurkan kepada sektor produksi, yakni pertanian, perikanan, industri pengolahan dan jasa produksi.

Penyaluran kredit UMKM juga terbilang cukup baik, tercatat hingga akhir 2019 Bank Mandiri menyalurkan sebanyak Rp92,23 triliun kepada 928.798 pelaku UMKM.

"Salah satu strategi kami dalam membangun sektor UMKM ini adalah dengan memanfaatkan value chain nasabah-nasabah wholesale, baik menjadi nasabah UMKM Bank Mandiri sendiri maupun menjadi target pasar hasil produksi nasabah UMKM Bank Mandiri," pungkas Royke. (A-2)

BERITA TERKAIT