23 January 2020, 21:17 WIB

Polri Selidiki Modus Munculnya 'Kerajaan' di Indonesia


Tri Subarkah | Nusantara

FENOMENA munculnya 'kerajaan' di Indonesia mendapat perhatian dari pihak kepolisian. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono, pendalaman dan penyelidikan terhadap kelompok masyarakat yang mengatasnamakan kerajaan perlu diselidiki.

"Ya tentunya itu apakah dari kegiatan tersebut akan merugikan orang lain atau merugikan negara. Tentunya itu perlu pendalaman tersendiri berkaitan dengan kegiatan tersebut," kata Argo di Mabes Polri, Kamis (23/1).

Lebih lanjut, Argo menyebut ada berbagai macam modus operandi ihwal munculnya fenomena tersebut. Di Purworejo, Jawa Tengah misalnya. Kerajaan Agung Sejagat yang dipimpin 'Raja' Toto Santoso dan 'Ratu' Fanni Aminadia ternyata berkedok penipuan.

"Itu sudah ditangani Polda Jawa Tengah. Memang motifnya ekonomi dan kita sudah bisa menerapkan Pasal kepada yang bersangkutan, yaitu Pasal 378 (KUHP), penipuan," jelas Argo.

Hingga saat ini, proses penyidikan terhadap raja dan ratu tersebut masih dilakukan di Semarang. Selain Kerajaan Agung Sejagad, publik juga dihebohkan dengan Sunda Empire di Bandung, Jawa Barat.

Menurut rohaniawan sekaligus Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Benny Susetyo, maraknya fenomena 'kerajaan' tersebut berasal dari sebuah utopia orang yang bermimpi menjadi kaya tanpa proses kerja keras.

"Mimpi dikomodifikasi dalam jaringan media sosial dengan kekuatan persuasif yakni membujuk dengan menggunakan dunia mitos yang disublimasikan dalam sadar," kata Romo Benny kepada Media Indonesia melalui pesan singkat.

Romo Benny juga menilai bahwa budaya literasi di Indonesia rendah. Hal tersebut membuat orang lebih percaya dengan 'dongen suci' yang disebarkan dari mulut ke mulut sehingga menjadi keyakinan. Ia mendorong kesadaran kritis bagi masyarakat dengan mendidik siswa menjadi manusia-manusia merdeka.

"Orientasi pendidikan membebaskan manusia dari mitos, tidak rasional. Pendidikan membuat siswa menjadi manusia memiliki kedewasan dan berpikir, bertindak, bernalar, berelasi. Dijiwai nilai kemanusian, keadilan, toleran, memiliki kepekan dan solidaritas kemanusian. Ke depan orientasi pendidikan perlu difokuskan pendidikan kristis," tandas Romo Benny. (OL-4)

BERITA TERKAIT