23 January 2020, 20:45 WIB

Potensi Besar Umrah untuk Perbankan


Bayu Anggoro | Nusantara

PENYELENGGARAAN ibadah umrah memiliki potensi ekonomi yang besar. Salah satunya bagi perbankan yang menjadi bank penerima setoran biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPS-BPIH).

Direktur Utama Bank BJB Syariah (bjbs) Indra Falatehan mengatakan, pihaknya menjadikan pelaksanaan ibadah umrah dan haji sebagai salah satu lini usaha yang akan digarap. Terlebih, potensi ini sangat besar mengingat banyaknya warga Jawa Barat dan Banten yang hendak melaksanakan prosesi religi tersebut dalam setiap tahunnya.

Baca juga: Jemaah Haji Indonesia Lakukan Umrah Berkali-Kali

"Jawa Barat saja memiliki jamaah umrah sebanyak 150 ribu dalam setiap tahun. Jadi menggarap potensi ini merupakan langkah tepat," kata Indra saat menghadiri media gathering Bank bjbs, di Bandung, Kamis (23/1).

Dia menambahkan, bisnis dari sektor ini akan digenjot karena Bank bjbs sudah ditunjuk oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menjadi BPS-BPIH sejak 2019. Pihaknya menargetkan 2.700 jamaah umrah dalam setiap tahun.

Pada tahun pertama saja, pihaknya mampu melayani 2.300 jamaah umrah, dari target 2.000. "Kami optimis target tahun ini bisa tercapai."

Direktur Kepatuhan Bank bjbs Affiatty Sofia Mantini mengatakan, penerimaan layanan umrah ini tidak hanya untuk bisnis. "Pada prinsipnya kami ingin calon jamaah juga memiliki keberkahan dan ketenangan hati dalam beribadah dari nilai-nilai syariah," katanya.

Nantinya, kata dia, pihaknya menyediakan beragam produk umrah dan layanan yang menunjang ibadah umrah. "Salah satunya melalui aplikasi Siskopatuh sebagai media pembayaran biaya perjalanan dan asuransi," katanya.

Dia menambahkan, pihaknya juga menyediakan Tabungan Haji iB Maslahah yang merupakan produk khusus untuk persiapan biaya ibadah haji. "Kami akan mengelolanya secara profesional dan aman sesuai prinsip syariah."

Sementara itu, Direktur Operasional dan Bisnis Bank bjbs Dadang Iskandar mengatakan, pihaknya berhasil membukukan laba Rp42,4 miliar pada 2019. Hal itu ditopang oleh berbagai bisnis yang dijalankan seperti pembiayaan yang mampu menyalurkan Rp5,4 triliun. Pembiayaan ini berasal dari segmen produktif sebesar 32% dan konsumtif 68%.

"Aset kami juga meningkat menjadi Rp7,7 triliun. Ini juga didorong pertumbuhan dana pihak ketiga yang terealisasi sebesar Rp5,7 triliun," katanya. (BY/A-1)

 

BERITA TERKAIT