23 January 2020, 19:40 WIB

Korban Meninggal DBD di NTT Bertambah Jadi 4 Orang


Palce Amalo | Nusantara

KORBAN meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD) di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (23/1) bertambah menjadi empat orang dari sebelumnya tiga orang.

Sedangkan korban DBD yang menjalani perawatan di rumah sakit bertambah dari 286 orang menjadi 353 orang.

Sesuai laporan Dinas Kesehatan NTT, tambahan korban meninggal berasal dari Sikka sehingga menambah jumlah korban meninggal di daerah itu menjadi dua orang. Begitu juga penderita DBD di Sikka bertambah menjadi 182 orang dari satu hari sebelumnya 159 orang. Sedangkan dua korban meninggal lainnya masing-masing berasal dari Alor dan Lembata.

Penderita DBD terdapat di 12 dari 22 kabupaten dan kota yakni Kota Kupang, Timor Tengah Selatan, Belu, Alor, Flores Timur, Lembata, Ende, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya.

Kejadian Luar Biasa

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus mengatakan kasus DBD di daerah itu telah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Pasalnya jumlah korban DBD pada pada Januari 2020 di daerah itu telah mencapai 182 orang, atau tiga kali lipat dari penderita DBD di daerah itu pada Januari 2019 sebanyak 67 orang.

Dari jumlah itu, hanya 94 orang yang masih menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan penderita lainnya  sudah sembuh dan telah dipulangkan. Sedangkan dua korban meninggal tersebut masing-masing berasal dari Kacamatan Alok dan Alok Timur.

Menurut Petrus, satu korban tiba di rumah sakit dalam kondisi kritis, sedangkan satu orang lagi sempat dipulangkan karena sembuh. "Setelah tiba di rumah, badannya kembali hangat tetapi tidak terpantau. Datang kembali ke rumah sakit tetapi nyawanya tidak diselamatkan," katanya kepada Media Indonesia, Kamis (23/1)

Setelah ditetapkan KLB, tambah Petrus, pemerintah daerah setempat langsung membagi dalam lima zona penanganan. Masing-masing zona
dikoordinir mulai dari Komandan Kodim, Kapolres, Kepala Pos Angkatan Laut, dan Basarnas.

Setiap zona akan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di permukiman penduduk maupun sekolah untuk mencegah penularan DBD. "Untuk logistik seperti obat-obatan masih cukup untuk kebutuhan 4-5 bulan ke depan," kata Dia. Kasus DBD di Sikka tersebut terjadi di 18 kecamatan, hanya tiga kecamatan yang tidak ditemukan kasus DBD. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT