23 January 2020, 19:18 WIB

HLC Gandeng Yamaha Music Gelar Program Music Time untuk Pengungsi


mediaindonesia.com | Humaniora

DATA Badan PBB untuk pengungsi (UNHCR) menunjukkan ada lebih dari 14 ribu pengungsi dan pencari suaka di Indonesia pada 2018. Kebanyakan pengungsi menderita trauma psikologis, termasuk anak-anak.

Banyaknya pengungsi membuat Hope Learning Center (HLC) berkomitmen untuk mengadakan program pendidikan bagi anak-anak pengungsi di Cisarua, Jawa Barat. Salah satunya lewat musik dengan program Music Time bekerja sama dengan Yamaha Music Indonesia.

"Saya bersyukur dapat membantu karena saya yakin melalui musik, anak-anak di pengungsian ini paling tidak dapat merasa gembira dan bahagia”, kata Shinichi Takenaga, Presiden Direktur Yamaha Musik Indonesia dalam keterangan tertulisnya.

Takenaga menambahkan, program musik merupakan hal baru bagi kebanyakan guru di Hope Learning Center, juga bagi anak-anak pengungsi.

"Banyak dari anak-anak itu yang belum pernah melihat alat musik sebelumnya. Jadi kami menyusun kurikulum yang sederhana tapi mampu membuat para guru bisa mengajar musik," ujarnya.

Takenaga menegaskan, program Music Time sesuai dengan visi Yamaha, yaitu berkontribusi terhadap masyarakat melalui suara dan musik.

Baca juga : Pengungsi Harap Erupsi Gunung Taal tak Lama

"Kami tidak menganggap masalah pengungsi secara politik, tapi melihatnya sebagai sesama manusia. Dalam situasi yang membuat anak?anak terpisah dari negara tempat dulu mereka tinggal, membuat saya menyadari pentingnya membantu menyediakan tempat yang membuat mereka merasa diterima," tegasnya.

Program Music Time di Hope Learning Center mencakup seminar untuk para guru dan donasi instrumen seperti pianika, gitar, dan recorder.

Direktur HLC Naweed Aieen mengatakan, musik penting bagi kehidupan seseorang dan merupakan makanan bagi jiwa,

"kami berencana memasukkan musik dalam kurikulum sekolah kami pada tahun 2020 dan juga atas desakan komunitas, kami berencana membuat departemen khusus musik. Sehingga, langkah ini membutuhkan guru musik profesional yang harus lulus workshop dan seminar. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Yamaha untuk jangka waktu lama," ujarnya.

Istri Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Mei Chou Donovan yang ikut terlibat dalam program itu mengaku melihat perkembangan positif dari anak-anak pengungsi.

“Saya terkesima mendengarkan suara kegembiraan dari para remaja yang bermain gitar, dan anak?anak yang bermain pianika dan recorder sewaktu masuk ke Hope Learning Center.”, ujar Mei Chou Donovan. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT