24 January 2020, 12:00 WIB

Gredu, Solusi Digital untuk Ringankan Tugas Guru


Galih Agus Saputra | Weekend

Dikembangkan sejak 2016, perangkat lunak bernama Gredu, kini eksis sebagai tawaran solusi digital guna memaksimalkan proses belajar para murid.

PT Sumber Kreatif Indonesia merilis platform tersebut di Jakarta, Senin (20/1). Dalam kesempatan itu, Headmaster & Co-Founder Gredu, Rizky Anies menjelaskan bahwa dirinya sepakat dengan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim dalam peringatan Hari Guru Nasional 2019 silam.

Menurutnya, kala itu Nadiem menjelaskan bahwa selama ini waktu guru banyak dihabiskan untuk mengerjakan tugas administratif sekolah. Di sisi lain, mereka pun butuh waktu untuk membatu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas.

Maka dari itu, lanjutnya, Gredu hadir dengan misi memudahkan pekerjaan administratif para guru dan sekolah, mulai dari mengisi atau mengolah presensi siswa, menyusun laporan harian, silabus, dan berbagai macam hal lainnya sejurus dengan kurikulum sekolah masing-masing.

Melalui sistem ini pula para orangtua dan murid juga dapat memantau proses belajar setiap saat karena sistem bekerja secara real time. Secara lebih ringkas, berbagai kebutuhan tersebut dikemas Gredu dalam empat produk unggulan yaitu Gredu School Management System, Gredu Teacher, Gredu Parent, dan Gredu Student.

"Gredu mewujudkan komitmennya dengan menghadirkan sebuah solusi digitalisasi lingkungan sekolah yang dapat menangani tugas-tugas administrasi sekolah. Harapannya, hal ini dapat menciptakan proses belajar dan mengajar yang lebih efisien, efektif, transparan, dan terukur," imbuhnya.

Chief Technology Officer & Co-Founder Gredu, Moh Fachri, menambahkan, Gredu menjamin keamanan data sekolah yang dikelola melalui sistemnya. Menurutnya, tim engineering Gredu selalu memandang bahwa data yang diolah mereka bukanlah produk sembarangan. Ia menyangkut informasi edukasi dan personal, dan oleh karena itu seluruh data dalam Gredu di-masking, sehingga pihak Gredu sendiri juga tidak bisa melihat data personal para pengguna.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Teknologi Pembelajaran Berbasis Multimedia Pustekkom Kemendikbud, Hasan Chabibie, berharap bahwa apa yang dilakukan sejumlah anak muda melalui Gredu ini, ke depannya bisa menjadi sumbangsih bagi dunia pendidikan di Indonesia yang begitu kompleks dan tidak dapat diselesaikan dengan jalan birokrasi saja.

Dalam amatannya, barangkali dewasa ini banyak orang yang berangapan bahwa pendidikan Indonesia tertinggal dari Singapura. Tetapi jika ditinjau kembali menggunakan kacamata kuantitatif, seluruh sekolah yang ada di Singapura pada dasarnya tidak lebih banyak dari jumlah sekolah yang ada di Depok.

"Itu baru Depok saja, kita belum ngomong Jakarta, Bekasi, dan daerah lainnya. Jumlah sekolah di Singapura kurang lebih ada 300-an. Jumlah SMP dan MTS yang ada di Depok kurang lebih sama dengan yang ada di Singapura. Maka, artinya, saat ini kita memiliki kompleksitas yang lebih bahkan dari segi kuantitatif saja, belum lagi berbicara masalah kualitatif dan lain sebagainya," tuturnya.

Pendidikan sendiri menurut Hasan pada dasarnya memiliki tiga aspek yang harus diutamakan. Pertama adalah persoalan kognitif, kemudian afektif, dan psikomotorik. Masalah kognitif biasanya diatasi dengan konten yang disampaikan dengan baik. Sementara masalah afektif berkenaan dengan nilai dan sikap pada murid, dan masalah psikomotorik berhubungan dengan kompetensi dan mental yang baik.

Ketiga aspek itulah yang, kata Hasan, selanjutnya harus didukung melalui berbagai macam perangkat. Baik yang berkenaan dengan sistem pengajaran (learning management system) atau perangkat pendamping layaknya Gredu, maupun perangkat lainnya yang selalu berkembang mengikuti zaman. (M-2)

BERITA TERKAIT