23 January 2020, 09:10 WIB

Suap Sengaja Pakai Uang Asing


M Iqbal Al M | Politik dan Hukum

TERSANGKA perantara suap, Andi Taswin Nur, mengaku pernah diminta mantan Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) Darman Mappangara untuk memberikan sejumlah uang kepada Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II Andra Yastrialsyah.

Taswin mengira uang itu merupakan pembayaran utang dari Darman ke Andra. Untuk melancarkan pemberian uang itu, Taswin bekerja sama dengan sopir Andra bernama Endang, yang terus menanyakan perihal uang yang dimaksud.

"Setelah itu, saya (Taswin) meminta Endang 'jangan saling bertanya karena nanti dapat menjadi masalah kalau Whatsapp kami dilacak'. Poin ini bisa dijelaskan?" kata jaksa penuntut umum (JPU) Haerudin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, kemarin.

Dalam peristiwa yang terjadi pada Maret 2019 itu, Taswin kerap dihubungi Endang perihal tersedianya uang yang diminta Andra. Karena sering dihubungi, Taswin menakut-nakuti Endang.

"Cuma karena dana yang ditunggu tidak ada dan saya sudah telanjur dihubungi Endang, jadi karena menelepon terus, saya takuti-takuti si Endang," ujar Taswin.

Pemberian uang itu dilakukan sebanyak tiga kali dari Taswin kepada Endang. Pertama kali pada 29 Juni 2019, Taswin menyerahkan langsung kepada Endang sebanyak US$14.620 atau sekitar Rp200 juta. Kedua, pada 26 Juli 2019 sekitar Rp750 juta atau US$53.000 yang diserahkan di Plaza Senayan, Jakarta.

Uang itu juga merupakan atas perintah Darman. "Sehari kemudian saya menyerahkan lagi Rp250 juta atau US$18.000 di Lotte Mart Avenue Kuningan," cetusnya.

Terakhir, pada 31 Juli 2019 di Kota Kasablanka sebanyak Rp1 miliar diberikan dalam bentuk S$96.700.

"Jadi, kalau dalam jumlah Rp1 miliar kan enggak mungkin itu, jumlahnya sangat besar, jadi ditukar dalam bentuk valuta asing karena Andra memang terima uang dalam bentuk itu," jelas Taswin.

Darman Mappangara didakwa menyuap Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II Andra Yastrialsyah Agussalam senilai US$71 ribu dan S$96.700. Suap diberikan secara bertahap pada Juli 2019.

Suap diduga dilakukan untuk mempermulus kontrak kerja PT Inti terkait proyek baggage handling system (BHS) di PT Angkasa Pura Propertindo (PT APP). Perbuatan itu dilakukan bersama-sama dengan swasta Andi Taswin Nur.

Darman didakwa melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a dan b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi .

 

Gula putih

Dalam kasus lain Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PT PN) III Dolly Parlagutan Pulungan dan Direktur Pemasaran PT PN III I Kadek Kertha Laksana didakwa menerima suap S$345 atau setara Rp3,55 miliar. Suap terkait distribusi gula kristal putih.

Suap dilakukan agar Dolly dan Kadek memberikan long term contract (LTC) atau kontrak jangka panjang kepada Pieko atas pembelian gula kristal putih yang diproduksi oleh petani gula dan PT PN di seluruh Indonesia. Distribusi gula sejatinya diakomodasi melalui PT PN III holding perkebunan.

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Mantan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Dolly Parlagutan Pulungan (kiri) bersama Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana (kanan) mengikuti sidang dengan agenda pembacaan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (22/1/2020).

 

LTC merupakan kontrak jangka panjang yang mewajibkan pembeli gula membeli dengan ikatan perjanjian dengan PT PN III dengan harga ditentukan setiap bulan.

Hal ini guna mencegah permainan dari pembeli yang hanya membeli gula saat harga murah. (P-1)

BERITA TERKAIT