22 January 2020, 19:25 WIB

Kolaborasi Strategis Menteri Siti Nurbaya – Nicolas Saputra


mediaindonesia.com | Humaniora

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Nurbaya Bakar menilai, film dokumenter tentang lingkungan berjudul Semesta, garapan aktor Nicholas Saputra dan dan Mandy Marahimin membawa  pesan yang sangat relevan dan kuat dalam  upaya penanggulangan perubahan iklim

“Film Semesta sangat bagus dan kuat secara konteks budaya dan agama dalam kaitannya pada upaya penanggulangan perubahan iklim berdasarkan way of life/cara hidup masyarakat Indonesia sendiri,” ungkap Menteri Siti Nurbaya, pada press screening Film Semesta di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (22/1)

Film Semesta merupakan kolaborasi strategis antara Menteri LHK Siti Nurbaya dengan aktor ganteng Nicolas Saputra, karena dibuat atas kerja sama KLHK dengan PT. Talamedia (dengan Komisaris Nicolas Saputra) dan disutradarai Chairun Nissa ini akan diputar terbatas di bioskop mulai 30 Januari 2020. 

Menteri Siti Nurbaya berharap penayangan  film Semesta ini akan mengedukasi masyarakat untuk semakin peduli terhadap krisis iklim atau perubahan iklim yang saat ini semakin nyata terasa dampaknya.

"Para tokoh inspiratif ini bergerak beraktualisasi dalam pengendalian perubahan iklim, menjaga lingkungan dan sumber daya alam serta hidup harmonis damai atas dorongan agama , kepercayaan dan budaya masing-masing," ujar Menteri Siti .

Film Semesta, lanjut Siti Nurbaya,  sekaligus menunjukkan way of life bangsa dan suku-suku dan agama di Indonesia dalam kehidupan keseharian dengan alam dan sesama dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda.

Menurut Menteri LHK, film tersebut terdapat pula refleksi ruang toleransi agama dengan masyarakat yang manjemuk dan alam ciptaaan Tuhan dan pengakuan keberagaman.

“Itulah makna dari film ini, Semesta. Film ini bukan hanya memberikan inspirasi bagi Indonesia tapi juga bagi bangsa-bangsa di dunia,” papar Siti Nurbaya. 

Dalam rangka penjangkauan atau outreach yang lebih luas dari nilai-nilai dari film Semesta, maka sebagian dari keuntungan pemutaran film Semesta diperuntukkan bagi mahasiswa, siswa, pelajar dan para guru yang akan menonton film Semesta di berbagai wilayah Indonesia. 

Dalam gala premiere film Semesta, Menteri LHK Siti Nurbaya, hadir pula Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD, Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki, Wakil Menteri LHK, Alue Dohong, perwakilan Uni Eropa, lembaga donor internasional, negara sahabat, tokoh pengendalian perubahan iklim, pemeran utama film Semesta ini.

Pada kesempatan itu Menteri Siti berbicara dengan Mendikbud Nadiem Makarim untuk mengembangkan bersama kurikulum pendidikan tentang perubahan iklim. Dengan kurikulum mengenai perubahan iklim, para pelajar akan sejak dini mengetahui bahaya dampak perubahan iklim dan bagaimana menanggulangi. 

Krisis ekologi mengkhawatirkan

Sementara itu Nicolas Saputra yang tampil dengan gaya kasual mengatakan, krisis ekologi di Indonesia sudah semakin mengkhawatirkan. Makanya penting untuk menjaga kondisi alam kita sekarang juga.

Film Semesta  katanya, berkisah tentang orang-orang yang berusaha keras merawat Indonesia. Para protagonis film ini terdiri dari tujuh sosok yang berasal dari latar belakang berbeda, mulai dari tempat tinggal, budaya, hingga agama.

"Dengan sajian kisah-kisah dari berbagai penjuru Indonesia, film Semesta ini membuka wawasan kita, dan memberikan inspirasi untuk berbuat sesuatu sekecil apapun itu. Sebab apapun latar belakang agama, budaya, profesi dan tempat tinggalmu, kita tetap bisa berbuat sesuatu untuk alam Indonesia dan dunia yang sekarang tengah mengalami krisis," ujar Nicolas.

Aktor yang melejit lewat film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) ini  mendatangi beberapa wilayah pelosok di Indonesia yang kisahnya diangkat ke dalam film dokumenter. Ceritanya tentang upaya mengurangi perubahan iklim.

"Saya ikut riset dan syuting. Ada satu dua lokasi yang syutingnya saya enggak ikut karena ada kegiatan lain, tapi untuk risetnya saya pergi ke sebuah tempat mencari tempatnya," ucap Nicholas 

Lokasi syuting berada di tujuh tempat berbeda, yakni Bali, Kalimantan Barat, NTT, Aceh, Papua Barat, Yogyakarta, dan Jakarta. Nicholas mengatakan, butuh perjuangan keras agar bisa mencapai ke semua lokasi karena medannya yang berat. 

Bersama Mandy Marahimin yang juga bertindak sebagai produser, Semesta digarap sedemikian rupa agar tidak membosankan. Dari segi produksi, pengambilan gambar, perekaman suara, pembuatan musik ilustrasi hingga tahap penyuntingan dikemas dengan apik agar nyaman untuk disaksikan di bioskop.

"Kami ingin menghapus stigma bahwa dokumenter adalah tontonan yang membosankan. Makanya kami membuat Semesta dengan suguhan berbeda. Latar belakang saya dan Nicholas Saputra yang sebelumnya berkecimpung dalam produksi film-film fiksi sangat membantu," kata Mandy yang pernah memproduseri film Kulari ke Pantai, Keluarga Cemara, dan Bebas.

Film Semesta ini telah masuk sebagai nominasi dalam Festival Film Indonesia untuk kategori film dokumenter terbaik. Film ini pun sudah melakukan World Premiere di Suncine Internasional Enviromental Film Festival, sebuah festival film yang digelar di Barcelona khusus untuk film dokumenter bertema lingkungan. (OL-09)

BERITA TERKAIT