23 January 2020, 05:40 WIB

Kemenkominfo Dorong Gunakan Sertifikat Digital


Hilda Julaika | Ekonomi

KEMENTERIAN Komunikasi dan Informatika mendorong penggunaan sertifikat digital dalam upaya melindungi masyarakat dari pembobolan rekening bank melalui layanan perbankan digital.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semual Abrijani mengatakan sistem One Time Password (OTP) yang digunakan untuk memverifikasi transaksi online pada saat menggunakan mobile banking masih memiliki celah pembobolan. Karena itu, perlu metode lain yang lebih efektif dan efisien.

"Kan sekarang ini pakai OTP, tapi banyak kejadian pembobolan seperti ini. Makanya harus ada metode yang lain. Yang kami perkenalkan sekarang ialah sertifikat digital. Jadi, identitas orang itu bisa melekat. Tidak bisa ia sangkal, jadi identitas ada di dia dan orang lain tidak bisa pakai lagi," kata Semual di Gedung Kemenkominfo, kemarin.

Sebagaimana diketahui, baru-baru ini terjadi pembobolan saldo bank lewat modus pengalihan SIM card. Seorang wartawan senior Ilham Bintang mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah lantaran nomor SIM card-nya dijadikan akses untuk melakukan transaksi lewat mobile banking.

Lebih lanjut Semual menjelaskan, dengan menggunakan sertifikat digital, transaksi keuangan melalui jalur digital akan aman. Apabila nasabah kehilangan ponsel, bahkan SIM card, pengguna bisa tetap menjaga semua otoritas data yang dimiliki, termasuk akses terhadap mobile banking. Dengan begitu, uang yang ada di dalamnya tetap aman.

Sertifikat digital sebetulnya sudah diterapkan beberapa penyelenggara. Misalnya yang digunakan untuk aplikasi perpajakan.

Namun, memang di lapangan penerapannya belum serentak. Hal itu disebabkan Indonesia masih memasuki tahap era digital sehingga kesadaran masyarakat belum tinggi.

"Transaksi kan semua sudah online. Uang kita semua sudah di ponsel. Makanya ponsel itu harus terdaftar untuk meminimalkan kerugian. Selanjutnya tinggal melakukan pengamanan-pengamanan yang lebih ketat serta sosialisasi kepada masyarakat untuk mengamankan data pribadinya di era digital ini," tandasnya.

Panggil operator

Kejadian yang menimpa Ilham Bintang diperkirakan juga menimpa nasabah lain.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) pun berencana memanggil seluruh operator seluler pekan depan. Pemanggilan itu untuk melakukan evaluasi penerapan prosedur operasional standar (SOP) yang diterapkan tiap-tiap operator.

Komisioner BRTI I Ketut Prihadi mengatakan pada 28 Januari nanti pertemuan dengan operator seluler tersebut akan dilakukan. Pihaknya akan mencermati penerapan SOP pada operator. Termasuk parameter-parameter yang digunakan dalam proses registrasi kartu dan penggantian kartu.

"Rencananya (pemanggilan operator seluler) pada 28 Januari. Yang dibahas evaluasi SOP yang tadi. Kita akan cermati SOP tiap-tiap operator, parameter-parameter apa yang digunakan sekarang untuk memproses pergantian kartu," ujar I Ketut Prihadi.

Selain itu, BRTI berencana menerapkan rekam biometrik sebagai salah satu validasi data dalam registrasi kartu subscriber identity module (SIM) seluler.

Data biometrik seperti foto wajah, iris mata, atau sidik jari akan menjadi pelengkap dari data primer dari nomor induk kependudukan (NIK) di kartu tanda penduduk (KTP) atau kartu keluarga. (Ant/E-1)

BERITA TERKAIT