23 January 2020, 03:30 WIB

Francisca Puspitasari Merdeka lewat Keramik


Furqon Ulya Himawan | Humaniora

Melalui Kaloka Pottery yang ia dirikan, Francisca Puspitasari tidak hanya memproduksi keramik cantik, tetapi juga membuat tren dan tidak kalah penting, menjadi jalannya untuk kemerdekaan waktu dan ide.

SALAH satu dari 223 akun yang diikuti akun resmi Instagram ialah @kalokapottery. Ini tentu sebuah pencapaian bentuk pengakuan sekaligus promosi.

Bagaimana tidak, akun resmi Instagram merupakan akun dengan pengikut terbanyak di dunia, yakni 328 juta. Angka itu terpaut jauh dari akun @cristiano milik pesepak bola Cristiano Ronaldo yang merupakan akun kedua berpengikut tertinggi, yakni 198 juta pengikut.

Keistimewaan Kaloka Pottery mudah dilihat dari unggahan-unggahannya. Merupakan perusahaan perangkat makan dari keramik, Kaloka kuat dalam desain yang unik. Tidak cantik yang serbarapi, tetapi sengaja dengan ketidaksegaraman atau ketidakmulusan dalam garis maupun coletan-coletan motifnya. Segala hal itulah yang membuat produknya terasa personal dan bukan pabrikan.

Berkat kekuatan itu pula produk Kaloka sudah memiliki pasar hingga luar negeri. Di dalam negeri, selebritas seperti Widi Mulia pun menjadi penggemarnya dan bahkan sengaja datang ke tokonya yang berdampingan dengan bengkel kerja. Di akun Instragram-nya yang berpengikut lebih dari 47 ribu itu terlihat pula jika Caca Tengker ikut menggemari produknya.

Media Indonesia berkesempatan datang ke markas Kaloka pada Rabu (15/1). Meski terletak di gang Bausasran, Danurejan, Kota Yogyakarta, toko dan bengkel kerja itu asri dengan pepohonan.

Di pojokan ada dua tungku kecil untuk memasak gerabah. Di situlah tableware Kaloka Pottery dimasak. Terlihat beberapa orang sedang mengerjakan sesuatu. Mereka memoles gerabah, seperti gelas dan mangkuk. Gerabah itu nanti akan dipanggang ke dalam tungku. Prosesnya mirip dengan cara pembuatan roti.

Seorang perempuan berambut lurus sebahu menyapa. Dia memperkenalkan diri sebagai Francisca Puspitasari. Dialah pemilik toko sekaligus pendiri Kaloka.

Keberadaan Kalola Pottery dengan sejumlah fasilitasnya: ruang workshop, tungku, dan pekerja, tidak datang dengan ujug-ujug. Ada jalan rumit yang menyertai cerita kesuksesannya.

Kika, begitu sapaan karib Francisca Puspitasari, mengaku bisnis keramik yang dirintisnya bermula dari mentoknya kebutuhan. Saat itu Kika yang menjadi orangtua tunggal dengan dua anak tidak memiliki pekerjaan.

Untuk memulai usaha, ia terhimpit modal. Meski begitu, ia bertekad untuk bisa mandiri dalam keuangan dengan memanfaatkan kegemarannya pada hal kreatif dan sedikit pengetahuan soal keramik.

"Saya ingin mandiri dan membuat sesuatu yang memerdekakan saya dari segi waktu dan ide," kata perempuan yang berkuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Di awal berdiri itu, Kika mengirimkan desain untuk diproduksi di studio lain. "Desain dari saya dan mereka yang mengerjakan," katanya.

Kika memasarkan produknya ke sejumlah restoran-restoran hotel, kafe, dan jaringannya sendiri, seperti komunitas teh dan kopi serta kedai dengan membuat katalog digital. Hasilnya lumayan, meski tak banyak, Kika mendapatkan sejumlah pesanan.

Ia mengaku, proses produksi dengan kerja sama studio lain sesungguhnya memberi keamanan dari segi keuangan sebab kerusakan barang ditanggung studio tersebut. Namun, Kika juga harus menerima risiko waktu pengerjaan yang lama dan produknya yang dijual tanpa izin.

"Desain saya kalau mau dijual harus izin. Tapi dalam perjalanannya enggak ada komitmen," katanya. Melihat realitas seperti itu, pada 2017, Kika nekat membuat studio sendiri di rumahnya, di gang Bausasran, itu.

Kerja tim

Meski permodalan yang sangat minim di awal pendirian studio, Kika tetap merasa beruntung karena banyaknya bantuan dari teman-teman. Ada temannya yang mau membuatkan tungku kecil meski dibayar dengan cicilan, lalu ada juga yang membantu proses pengolahan tanah liat.

Meski begitu, berbagai kendala tetap harus dihadapi. Salah satu yang terberat ialah kegagalan dalam proses pembakaran sehingga membuat keramik tidak matang atau bahkan pecah. Hal ini tentu menimbulkan kerugian keuangan hingga sempat membuat Kika merasa jika bisnis keramik bukanlah jalannya.

Namun, anak bungsu dari 3 bersaudara itu tak menyerah. Dia malah berpikir mencari pekerja untuk membantunya. "Tidak mungkin sendirian. Kesuksesan itu lahir dari sebuah tim," kata Kika yang meski sangat takut tidak mampu membayar pegawai.

Di tengah kegalauannya, Kika mendapati sejumlah orang datang ke tokonya dan mulai mendapat pesanan dalam jumlah besar. Dia heran, padahal Kaloka Pottery tak pernah iklan dan tokonya ada di dalam gang perkampungan. "Lalu ada orang dari Qatar yang menghubungi saya dan pesan dalam jumlah besar," katanya.

Pesanan awal itu berjumlah 2.000 perangkat makan, termasuk gelas, mangkuk, piring, dan bentuk lainnya. Pertolongan kembali datang ketika sebulan menjelang tenggat pesanan, Kika merasa tak sanggup memenuhi. Ia memilih jujur kepada klien yang kemudian secara mengejutkan tetap mendukungnya. Kepercayaan dan pengertian klien itu yang akhirnya mendorong Kika menyelesaikan pesanan.

Seusai pesanan dari Qatar, Kika mulai kebanjiran order. Sejumlah kafe atau restoran di luar negeri banyak yang pesan, seperti dari Qatar, Beirut, dan Yaman. "Hampir setiap hari saya kirim ke Timur Tengah," katanya.

Keterkejutan Kika pada orang-orang yang datang dan tokonya akhirnya terjawab. Ternyata mereka mendapat informasi melalui media sosial. Meski belum punya website, Kika memang menggunakan Instagram untuk mengunggah sejumlah foto-foto produk Kaloka Pottery. "Jadi di era sekarang orang bisa berjualan di mana saja meski dalam gang kecil. Enggak perlu di pinggir jalan," katanya meyakinkan.

Berkat medsos pula Kika melihat adanya percepatan dalam usahanya. Dalam kurun waktu 4 tahun dia sudah memiliki 15 pekerja dan dua tungku kecil. Dia juga sedang memesan tungku yang lebih besar.

Bukan remeh

Lewat Kaloka Pottery, Kika juga ingin menyebarkan kepada dunia luar bahwa kerajinan keramik bukanlah hal remeh. Baginya, kerajinan keramik ialah sebuah keterampilan yang sangat mulia. Tidak semua orang bisa melakukannya.

Kika selalu sedih ketika melihat banyak perajin keramik yang sudah tua. Jarang dia menjumpai anak generasi muda mau belajar dan menjadi perajin keramik. Padahal, di luar negeri, banyak yang ingin belajar membuat keramik di studionya melalui kelas keramik Kaloka Pottery.

"Tapi di Indonesia, generasi mudanya enggan belajar atau mau menjadi perajin keramik," katanya.

Itulah mengapa Kaloka Pottery membuka kelas membuat keramik. Tujuannya, selain memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada orang luar negeri, juga agar generasi milenial tahu bagaimana cara membuat keramik dan bisa menghargai para perajinnya. "Mereka mengira keramik tidak dari tanah liat," pungkas Kika seraya tersenyum. (M-1)

BERITA TERKAIT