22 January 2020, 18:08 WIB

Puluhan Penambang Emas Ilegal Rusak TNLL Poso


Puluhan Penambang Emas Ilegal Rusak TNLL Poso | Nusantara

SEBANYAK 15 hektare (ha) kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) dijadikan area puluhan pertambangan emas ilegal, akibatnya lahan hutan menjadi rusak.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Jusman mengakui, bahwa masih ada aktivitas pertambangan emas ilegal di kawasan konservasi TNLL Desa Dongi-Dongi, Kecamatan Lore, Kabupaten Poso.

Menurutnya, meski kawasan itu dijaga polisi kehutanan, namun aktivitas dari orang tidak bertanggung jaws tersebut masih saja berlangsung.  "Mereka di sana (penambang ilegal) kucing-kucingan dengan petugas yang berjaga," terang Jusman di Palu, Rabu (22/1).  

Pihak TNLL belum memiliki data pasti tentang luas kawasan konservasi yang rusak akibat adanya aktvitas pertambang ilegal itu.  

"Kami belum data lagi sudah sampai mana kerusakan hutan di sana. Yang pasti secara keseluruan ada 15 hektare kawasan konservasi yang dijadikan pusat pertambangan emas ilegal," tegas Jusman.

TNLL mengetahui masih adanya aktivitas pertambangan emas di kawasan konservasi tersebut, setelah menerima laporan bahwa ada empat orang penambang ilegal yang ditangkap pihak kepolisian.

"Kami juga baru tahu setelah ada yang ditangkap. Karena selama ini kami pikir aman karena sinaga," sebut Jusman.  

Untuk mengamankan kawasan konserhvasi dari aktivitas  penambangan emas ilegal memang tidaklah mudah.  

Jusman mengakui, bahwa banyak tantangan yang akan dihadapi. Selain karena di sekitar kawasan tersebut adalah hutan juga terdapat banyak kebun warga.

"Kan tidak mungkin petugas menjaga kawasan itu 24 jam," sebutnya.  

Oleh karena itu, Jusman menambahkan, harus ada penindakan serius dari pihak kepolisian untuk menindak.  

"Kami akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk dengan jajaran Polda Sulteng dan masyarakat setempat untuk mengatasi bersama aktivitas penambangan emas ilegal itu," paparnya.  

Sebagaimana diketahui, pertambangan emas ilegal Dongi-Dongi yang terletak sekitar 1,5 kilometer dari jalan poros Palu-Napu itu sebenarnya sudah ditutup aparat gabungan TNI/Polri, Satpol-PP dan Polhut sejak 2016.

Namun dalam beberapa bulan terakhir kembali ramai diserbu para penambang yang juga berasal dari luar wilayah Sulteng dan itu terbukti petugas beberapa kali mengamankan tanah/pasir yang diduga kuat berasal dari eks tambang Dongi-Dongi. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT