22 January 2020, 16:32 WIB

PGRI Minta Guru Ciptakan Sekolah Ramah Anak


Indriyani Astuti | Politik dan Hukum

PERSATUAN Guru Republik Indonesia (PGRI) mengajak guru untuk menciptakan sekolah ramah anak. Tujuannya menghindari perundangan yang menghantui para siswa.

Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi, menyampaikan keprihatinan terhadap meninggalnya seorang siswi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 147 Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, berinisial SN, 14. Remaja tersebut tewas setelah melakukan percobaan bunuh diri di sekolahnya pada Selasa (14/1) lalu. Dia diduga mengalami perundungan di sekolah.

"Kami sangat prihatin terhadap berbagai hal terkait model perundungan dan lain sebagainya. Kami mendukung sekolah ramah anak. Misalnya ada yang meninggal di SMP," ujar Unifah kepada pewarta di Kantor Wakil Presiden, Jakarta.

PGRI telah melakukan penelusuran terhadap kasus tersebut. Dari situ, lanjut Unifah, diketahui siswi yang bersangkutan masih berada di sekolah pukul 4 sore. Padahal sekolah telah ditutup. Dia disebut mengalami masalah keluarga, sehingga enggan pulang ke rumah.

Lebih lanjut, Unifah menekankan setiap guru mempunyai kewajiban moral untuk mencegah perundungan di sekolah. Menurutnya, perundungan jenis apapun tidak dibenarkan.

"Kami PGRI akan terus melakukan sosialisasi, agar sekolah ramah anak itu dijamin. Kalau ada case (kasus), kami mohon itu tidak menjadi sesuatu yang general. Ini problem penting yang harus diselesaikan," tukasnya.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT