22 January 2020, 15:37 WIB

Menteri Bukan Pewacana dan Beri Lebel Negatif


Aries Wijaksena | Megapolitan

BERWACANA atas stigma negatif Tanjung Priok sebagai daerah penghasil kriminalitas yang menimbulkan kemarahan masyarakat, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly didesak mengeluarkan permintaan maaf.

Syahganda Nainggolan, pengamat politik Sabang Merauke Circle menerangkan, Yasonna memiliki tiga wajah yaitu sebagai menteri yang mewakili negara, petinggi PDIP, dan sebagai professor. Yasonna ditekankannya tidak dapat memilah-milah dimensi dirinya kapan semaunya. Karena, ketika Yasonna menjadi menteri, maka tanggungjawab utama dia adalah sebagai wakil negara.

“Dalam konteks pemimpin negeri, atau elit bangsa, Yasonna tidak bisa menguraikan sebuah komparasi yang membangun stigma jelek pada sebuah komunitas maupun masyarakat,” tegas Syahganda melalui pesan elektronik, Rabu (22/1).

“Seorang menteri.Seorang penguasa bukanlah pembuat wacana, melainkan bertugas memecahkan masalah,” timpalnya.

Dalam kesempatan yang sama Syahganda menguraikan tanggungjawab seorang menteri dalam kontek kriminalitas di sebuah daerah adalah memastikan akurasi data, mencari penyebab dan membuat program atau agenda aksi sesuai bidangnya.

“Dalam rekomendasi kebijakan sosial, misalnya, bisa saja pemerintah membangun sebuah daerah hitam, seperti komplek prostitusi dan judi, ataupun perkampungan pemakai narkoba,  yang dapat dilakukan demi melokalisasi persoalan sosial agar tidak menjalar ke berbagai daerah. Atau langsung pada kebijakan pengentasan kriminalitas,” jelas Syahganda.

“Sebagai Menkumham, Yasonna dapat saja melakukan pengentasan kriminalitas itu melalui penegakan hukum, seperti memberantas mafia peradilan, memberikan akses kemudahan perkara dan bantuan hukum bagi orang-orang miskin, dan lalu dapat bekerjasama dengan pemerintahan daerah dalam mengentaskan kemiskinan serta kebodohan di sebuah kota,” lanjutnya.

Pun sebagai professor yang sedang menyampaikan pandangan teori kemiskinan, maka soal Tanjung Priok ini sepatutnya tidak disampaikan hingga memancing kemarahan. Syahganda mengingatkan, kejahatan dalam statisktik kriminalitas yang ditampilkan BPS hampir tidak menampilkan soal korupsi, melainkan hal-hal seperti pencurian, pembunuhan, begal motor, perampokan, pemerkosaan, dan narkotika.

Terlebih, ahli kriminologi berusaha terus menerus mencari hubungan kemiskinan dengan perbuatan kriminalitas. ukessay.com menyatakan para ahli kriminologi belum mendapatkan kepastian tentang itu. Syahganda menyampaikan literatur yang dibahas di website itu, ada  3 hal penting yang menyebabkan kriminalitas yaitu disadvantaged neighborhoods, criminal opportunity and social disorganization, unemployment,” paparnya.

“Professor Richard Rosenfeld dari University of Missouri-St Louis, mengatakan poverty and crime have a nuanced relationship. Rosenfeld melihat kemiskinan bukan faktor tunggal menciptakan kriminalitas, hanya mempunyai hubungan tipis. Namun kemiskinan memberi situasi buruk ke arah kriminalitas. Menurutnya, having less wealth puts a strain on individuals and families, and the added stress of living in poverty can sometimes lead people to commit crimes to get cash,” ujar Syahganda perihal pernyataan berbeda atas keyakinan Yosanna terhadap 100 persen hubungan kemiskinan penyebab kriminalitas.

Lebih jauh Syahganda mengingatkan banyak para tokoh negara maupun orang sukses yang besar di Tanjung Priok. Wakil Presiden RI, KH. Ma’ruf Amin dan mantan menteri BUMN Sugiharto adalah dua contoh orang Priok yang sukses. Sugiharto adalah penjual tiket karcis bioskop di masa kecilnya. Saat ini dia menguasai saham Jababeka, salah satu  perusahaan kawasan industri terbesar di Indonesia. Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni dan Wakil Ketua DPRD DKI Muhammad Taufik adalah contoh lain dari orang sukses asal Tanjung Priok.

Sebelumnya, Yasonna ketika berkunjung ke Lapas Narkotika Kelas IIA, Jatinegara, Jakarta pada Kamis, 16 Januari 2020 mengatakan kemiskinan adalah sumber tindakan kriminal. Ia mencontohkan dua anak yang lahir dan besar di dua kawasan yang berbeda, yakni Menteng dan Tanjung Priok. Ia meyakini jika anak yang lahir dari kawasan Tanjung Priok yang terkenal keras dan sering terjadi tindak kriminal akan melakukan hal serupa di masa depan.

Pernyataan Yasonna atas stigmatisasi Tanjung Priok membuat berang Ahmad Sahroni yang meminta Yasonna mengeluarkan pernyataan tak berbasis data usang. Ia membeberkan, berdasarkan data BPS, Tanjung Priok saat ini bukan lagi daerah kumuh dan premanisme. Terpenting, Tanjung Priok memiliki pelabuhan tersibuk dan menjadi barometer perekonomian Indonesia. Lebih dari 30% komoditi Non-Migas Indonesia serta 50% dari seluruh arus barang yang keluar-masuk Indonesia melewati pelabuhan ini dengan aman tanpa harus takut ancaman kriminal seperti di masa lalu.

Data BPS terkait indeks Kerawanan keamanan dan ketertiban wilayah DKI Jakarta 2019 mengungkap bahwa Kelurahan Tanjung Priok 2019 berada di level lebih rendah dibanding Menteng, di mana Priok berada di angka 12,83 persen berbanding Menteng dengan angka 15,58 persen.

“Mengutip data BPS berarti Priok lebih aman dibanding Menteng. Mau kita pungkiri data BPS?” tukasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT