22 January 2020, 11:12 WIB

Hasil Survey LSI: Jeje Wiradinata Di Atas 50%


Kristiadi | Nusantara

CALON Bupati Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata berpotensi bisa terpilih kembali di Pilkada September 2020 mendatang. Dengan berbekal elektabilitas di atas 50 persen sudah masuk dalam kategori Matahari Tunggal. Kini, posisinya sebagai incumbent yang sudah jauh meninggalkan kandidat lainnya akan semakin sulit untuk dikalahkan.

Demikian hasil analisis urvey Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network yang disampaikan oleh Denny JA tentang kecenderungan pemilih pada Pilkada Kabupaten di Bandung, Selasa (21/1). Survei dilakukan pada 9-13 Desember 2019 dengan menggunakan metode standar multistage random sampling dan wawancara tatap muka dengan melibatkan 440 responden, dengan margin of error 4,8%.

"Dalam berbagai simulasi jumlah kandidat, elektabilitas calon bupati Jeje selalu unggul signifikan dan semakin sedikit jumlah calon, semakin tinggi elektabiliasnya. Karena, terlihat dalam simulasi 9 calon misalnya, Jeje unggul 65,5 persen, disusul Adang Hadari 14,1 persen. Sementara yang lain masih berada di bawah 10 persen seperti halnya Ino Darsono 7,7 persen, Taufik Martin 4,3 persen," kata Denny,  Rabu (22/1).

"Dengan posisi calon bupati Jeje yang seperti itu ada kemungkinan sulit untuk memunculkan calon yang mau maju di Pilkada Pangandaran, sebagai incumbent. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan elektabilitas Jeje yang melesat jauh meninggalkan kandidat lain itu. Karena, dalam simulasi pertanyaan tentang apakah publik di Pangandaran ingin bupati baru atau bupati lama tapi mayoritas publik 67,7 persen ingin tetap dipemimpinnya bupati lama, dan 19,8 persen publik ingin pemimpin baru," tambahnya.

Menurutnya, variabel lain yang menjadi faktor keunggulan Jeje adalah sebagai incumbent yang memiliki tingkat kepuasan publik atas kinerja yang cukup tinggi yaitu, 79,5 persen terdiri dari 67,0 persen cukup puas dan 12,2 persen sangat puas. Kedua mempunyai bekal tingkat pengenalan dan kesukaan yang cukup tinggi, yaitu 97,3 persen (pengenalan) dan 92,8 persen (kesukaan). Ketiga, Jeje sudah mengantongi jumlah pemilih militan (strong supporter) juga tinggi 44,1 persen.

"Faktor lain yang juga selalu menjadi indikator potensi kemenangan, yang telah tergambar dari peta distribusi dukungan di aneka segmen demokrafis cukup merata, baik suku, agama, gender, usia, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan. Bahkan sebaran dukungan di setiap zona serta dapil.
 
Denny mengungkapkan, dari pengalaman LSI Network melakukan ratusan kali survey di seluruh Indonesia, posisi kandidat elektabilitas di atas 50 persen melawan para kandidat yang masih di bawah 10 persen, cukup sulit untuk dikalahkan. Kecuali terjadi tsunami politik dan money politic. Tsunami politik yang diketahui dan dipercaya massif oleh publik misalnya, tiba-tiba jadi tersangka, kasus korupsi hingga narkoba dan lain-lain. Serta money politik yang mensyaratkan harus terjadi secara massif.

baca juga: Plt Wali Kota Medan Copot Rusdi Sinuraya Sebagai Dirut PD Pasar

"Potensi yang bisa mengubah elektabilitas itu cukup kuat karena dari temuan data survey, lebih dari 50 persen publik di Pangandaran menganggap money politic itu wajar. Akan tetapi, 7,7 persen menganggap sangat wajar dan 44,5 persen cukup wajar dan bisa dimaknai sebagai good news buat kandidat bermodal capital besar. Dan bad news dengan modalnya pas-pasan jika money politic terjadi massif," pungkasnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT