22 January 2020, 07:35 WIB

KKSK Pastikan Kondisi Keuangan Relatif Stabil


M Ilham RA | Ekonomi

KOMITE Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi keuangan Indonesia saat ini berada dalam tingkat (level) yang stabil. Kepastian itu didapat berdasarkan laporan para pemangku kebijakan sektor keuangan dalam rapat KKSK yang digelar Senin (20/1) malam.

"Ketua KKSK Ibu Menteri Keuangan Sri Mulyani dan KSSK ini selalu menggelar rapat rutin untuk membicarakan masalah. Terakhir tadi malam sampai pukul 23.00 WIB untuk melihat kondisi keuangan kita yang ternyata relatif stabil," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto di Jakarta, kemarin.

Rapat KKSK tersebut diikuti Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Hadiyanto menegaskan keempat instansi tersebut punya kewajiban untuk mengambil berbagai langkah guna memastikan sudah ada sistem yang mampu mengevaluasi, memantau, dan mendeteksi adanya potensi pengganggu stabilitas keuangan Indonesia.

"Tentu saja sebagai otoritas moneter melakukan pengendalian dari aspek makroprudensial," tegasnya.

Hadiyanto mengatakan kondisi Indonesia saat ini telah jauh berbeda dengan kondisi ketika krisis keuangan pada 1998. Kala itu penyebab krisis ialah sangat mudahnya membentuk bank tanpa aturan yang jelas dan latar belakang yang memadai.

"Itu menyebabkan tata kelola sistem perbankan tidak bagus sehingga pinjaman antarbank banyak dalam bentuk dolar. Belajar dari itu, sekarang ini bagaimana pemerintah membangun sistem keuangan yang lebih baik," ujarnya.

Tak hanya itu, sambungnya, setelah krisis keuangan global pada 2008 banyak perubahan positif yang terjadi, seperti inflasi Indonesia cukup terkendali, kesejahteraan terus membaik, serta kemiskinan turun di bawah dua digit.

Daya tahan kuat

Di kesempatan berbeda, Deputi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan daya tahan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada posisi yang baik meski Dana Moneter Internasional (IMF) kembali mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Dalam laporan terbaru bertajuk World Economic Outlook (WEO), IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global di 2020 berada di angka 3,3%, turun dari sebelumnya yang sebesar 3,4%. Adapun pertumbuhan ekonomi di ASEAN 5 yang mencakup Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam diprediksi cenderung terjaga.

"Jadi, walaupun ada revisi pertumbuhan dari IMF, kita steady state-nya lebih kuat dari negara lain," kata Iskandar seusai membuka sosialisasi pedoman pelaksanaan KUR di Jakarta, kemarin.

Optimisme tersebut, sambungnya, bukan tanpa berdasarkan data. Sejumlah indikator dijadikan sandaran, di antaranya mulai masuknya investasi ke Indonesia senilai Rp800 triliun setelah disetujuinya fasilitas pajak.

Selain itu, kontribusi daya beli melalui sektor konsumsi domestik yang besar mencapai 56%-57% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi indikator. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT