22 January 2020, 04:50 WIB

Bedah Robotik Lebih Presisi dan Minim Luka


(Ifa/H-2) | Humaniora

SISTEM komputerisasi dan teknologi medis lewat bedah robotik telah membantu para dokter untuk memberikan pengobatan semaksimal mungkin kepada pasiennya. Lebih presisi dan minim pendarahan ialah dua manfaat yang didapat pasien lewat teknologi ini.

Di Indonesia, teknologi bedah robotik ini hanya dimiliki sedikit rumah sakit dan Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Jakarta salah satunya. Sejak dirintis pada 2012, sudah lebih dari 400 tindakan bedah robotik yang sukses dilakukan di RSU Bunda Jakarta. Beberapa pasien pertama telah melalui bedah robotik ini dengan hasil yang sangat baik.

Adapun disiplin ilmu yang telah memanfaatkan teknologi ini, antara lain kandungan jinak, kanker rahim, bedah urologi, bedah digestif, dan bedah prostat.

Ahli bedah urologi dari RSU Bunda, dr Agus Rizal SpU(K) PhD, menjelaskan, tingkat presisi yang tinggi memberikan informasi yang detail tentang patologi jaringan operasi yang dilakukan pembedahan. Tindakan pembedahan juga lebih tepat.

"Contoh dalam operasi prostat yang saya tangani, ada suatu benjolan kecil dengan ukuran sekitar setengah sentimeter. Bayangkan, Anda miring saja 1 milimeter dari luar, di dalam bisa 1 sentimeter perbedaannya. Nah, dengan robotik tadi kita bisa lebih presisi," jelasnya saat seminar Discovering Robotic Surgery di Auditorium RSU Bunda, Jakarta, Selasa (14/1).

Dokter Agus menguraikan, pembedahan dengan teknologi robotik dilakukan dengan kontrol dan artikulasi tangan dan jari dokter. Tangan-tangan robot akan dengan leluasa bergerak seperti layaknya tangan dokter berada di dalam rongga operasi, seperti rongga abdomen.

Pascaoperasi, sambung dokter Agus, pemulihan luka juga akan berlangsung sangat cepat karena sedikitnya manuver dokter terhadap jaringan sekitar dan sedikitnya perdarahan. Sementara itu, pada pembedahan konvensional, luka operasi cukup besar, risiko operasi yang tinggi, dan masa pemulihannya lama.

Dokter Agus menambahkan, masyarakat masih beranggapan operasi bedah robotik ini biayanya mahal. Padahal, manfaat dari teknologi tersebut jauh lebih besar.

Kepala RSU Bunda dr Feronika Hardanti menyebutkan, saat ini teknologi bedah robotik di Indonesia masih tertinggal. Bandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang telah memiliki 6 rumah sakit dengan fasilitas teknologi bedah robotik, Thailand 5, Vietnam 4, dan Filipina 2.

Namun, di masa yang akan datang, ia berharap masyarakat akan lebih banyak memanfaatkan teknologi bedah robotik di Tanah Air. Apalagi, menurut Feronika, operasi bedah robotik di RS Bunda jauh lebih murah daripada di Singapura dan Malaysia.

Sebagai rumah sakit pelopor robotic minimally invasive surgery, imbuhnya, pihaknya juga memberikan pelatihan bagi tenaga medis. (Ifa/H-2)

BERITA TERKAIT