22 January 2020, 04:40 WIB

Leptospirosis, Diam-Diam Membunuh


Atalya Puspa | Humaniora

SAAT rumahnya diterjang banjir hingga 40 cm di dalam rumah pada 1 Januari 2020, Stefanus Woda Raja, 67, warga Pondok Surya Mandala, Jakamulya, di Kecamatan Jati Asih, Bekasi Selatan,sempat berkeliling melihat rumah tetangga lain yang kebanjiran.

Bahkan ia sempat membantu dan menggotong jenazah tetangganya yang meninggal dunia. Namun, keesokan harinya, bapak dua anak itu mulai merasakan demam, pusing, dan lemas sekujur badannya.

"Kita pikir mungkin kecapekan karena bantu-bantu tetangga yang meninggal. Karena demam tidak kunjung turun hingga tiga hari, Stefanus pun berobat ke puskesmas," kata Deo Woda, putra Stefanus kepada Media Indonesia, kemarin.

Meski sudah minum obat, kondisi Stefanus tidak membaik bahkan badan mulai terasa menggigil dan muntah-muntah hingga Kamis (15/1). Stefanus lalu di bawa ke rumah sakit di kawasan Galaxy.

Dari uji lab diketahui Stefanus positif terkena leptospirosis, dan diminta segera cuci darah, karena fungsi ginjalnya tinggal 8%.

Keesokan harinya Stefanus masih di ruang IGD dan belum juga mendapatkan tindakan cuci darah hingga malam hari. Sementara perut semakin membuncit dan kesadarannya mulai menurun.

Sekitar pukul 20.00 WIB, Stefanus dipindah ke RSUD Bekasi, namun baru sampai di depan IGD rumah sakit tersebut pada pukul 21.30, Stefanus menghembuskan napas terakhirnya tanpa sempat menjalani cuci darah. "Waktu di rumah sakit di Galaxy, gak ada tindakan meski merekabilang bapak kena leptospirosis," tambah Deo yang tidak percaya ginjal bapaknya begitu cepat rusak.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi dari Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre, Erni Juwita Nelwan menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia, seperti tikus.

Bakteri leptospirosis tinggal di dalam ginjal hewan, keluar dari air seni hewan dan masuk ke tubuh manusia lewat pori-pori dan selaput lendir yang terbuka karena luka, misalnya.

"Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, tergantung apa yang di-kerjakan. Paling tinggi faktor risiko pada petani dan pekerja yang berhubungan langsung dengan sawah ataupun selokan," kata Erni.

Menyebar lewat darah

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa dirinya terjangkit leptospirosis. Pasalnya, masa inkubasi bakteri leptospirosis hingga menimbulkan gejala berlangsung selama 2 minggu hingga satu bulan.

"Padahal, penyakit ini sangat bisa mematikan. Bisa juga seperti serangan jantung. Gejalanya ada di seluruh organ karena saat masuk bakterinya menyebar lewat darah. Kalau kena banjir makanya harus selalu bilang ke dokter," kata Erni, tadi malam.

Untuk mencegah terjadinya leptospirosis, Erni mengimbau masyarakat agar membiasakan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, harus membiasakan diri untuk memakai alat pelindung saat kontak langsung dengan banjir maupun selokan.

"Kalau orang yang benar-benar harus kontak langsung, bisa melakukan pencegahan dengan minum antibiotik doksisiklin. Pencegahan dengan alat pelindung, baju tertutup, dan pakai bot lebih baik," jelasnya.

Pada 2019, tercatat 845 kasus leptospirosis di Indonesia dan 125 orang di antaranya meninggal dunia. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, meski kasus leptospirosis tidak banyak, penyakit ini dapat menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) dan sangat cepat memicu kematian. (Ros/H-2)

BERITA TERKAIT