21 January 2020, 19:08 WIB

845 Kasus Leptospirosis Sepanjang 2019, Terbanyak di Jawa Tengah


Atalya Puspa | Humaniora

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mencatat terdapat sebanyak 845 kasus leptospirosis di Indonesia sepanjang 2019. Adapun, 125 orang di antaranya meninggal dunia.

Sementara itu, kasus tertinggi terjadi di wilayah Jawa Tengah, yaitu sebanyak 458 kasus yang menewaskan 67 orang.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, leptospirosis terjadi akibat bakteri leptospira.

"Bakteri leptospira masuk lewat kulit yang lecet atau selaput lendir pada saat kontak dengan banjir, genangan air sungai, danau, selokan, saluran air, sawah, dan lumpur," kata Nadia kepada Media Indonesia, Selasa (21/1).

Nadia mengungkapkan, di Indonesia sendiri kasus leptospirosis memang tidak tergolong besar. Mayoritas disebabkan oleh kontak manusia dengan tikus.

"Tikus sendiri tidak sakit tetapi penyakit ini terminal manusia," kata Nadia.

"Kalau bandingkan kasus lain tidak rutin kita temukan tetapi masalahnya adalah dapat menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) dan cepat menyebabkan kematian," imbuhnya.

Baca juga: Waspada Leptospirosis saat Banjir, Lakukan Enam Hal Antisipasi

Adapun, gejala leptospirosis yang harus diwaspadai oleh masyarakat ialah demam mendadak, lemah, mata merah, sakit kepala, kekuningan pada kulit, dan nyeri otot betis.

Apabila mengalami gejala tersebut, Nadia mengimbau kepada masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

"Selain itu cara pencegahannya adalah dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat. Cuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas, dan menggunakan sarung tamgan dan sepatu boots saat membersihkan rumah atau selokan," tandasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT