21 January 2020, 08:40 WIB

Ketimpangan Global kian Mencemaskan


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

ORGANISASI nirlaba asal Inggris, Oxfam, merilis data terkait dengan ketimpangan yang terjadi di dunia. Dalam laporan bertajuk Time to Care disebutkan, sebanyak 2.153 miliarder dunia memiliki kekayaan lebih dari 4,6 miliar orang di dunia atau setara 60% dari populasi manusia.

CEO Oxfam India, Amitabh ­Behar, menyatakan ketidaksetaraan global amat mengakar dan jumlah miliarder meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. “Kesenjangan antara kaya dan miskin tidak dapat diatasi tanpa kebijakan penghilang ketimpangan yang disengaja, dan terlalu sedikit pemerintah yang berkomitmen untuk ini,” ujarnya di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, kemarin.

Oxfam menyebutkan ­beberapa hal yang memantik krisis ­ketimpangan. Tercatat 22 pria terkaya di dunia memiliki ­lebih banyak kekayaan daripada ­semua wanita di Afrika. Padahal, bila diakumulasikan, perempuan dan anak perempuan menghabiskan 12,5 miliar jam pekerjaan tanpa bayaran setiap hari dan itu berkontribusi bagi ekonomi global US$10,8 triliun per tahun.

Angka itu tiga kali lebih banyak daripada yang dihasilkan industri teknologi global. “Ekonomi kita yang hancur berbaris di kantong para miliarder dan bisnis besar dengan mengorbankan pria dan wanita biasa. Tak mengherankan bila orang mulai mempertanyakan apakah ­miliarder harus ada.”

Sumber: Oxfam/NRC

 

Perempuan dan anak perempuan, lanjut Behar, ialah kelompok yang paling sedikit mendapat manfaat dari sistem ekonomi global saat ini. “Ini didorong oleh wanita yang sering memiliki sedikit waktu untuk mendapat pendidikan, mencari nafkah yang layak, atau memiliki suara untuk bagaimana masyarakat kita dijalankan. Karena itu, ­mereka terjebak di bagian bawah ekonomi.”

Di seluruh dunia, 42% wanita usia kerja tidak bisa ­mendapatkan pekerjaan karena mereka bertanggung jawab atas semua pengasuhan, jauh dari pria yang hanya 6%. Ketimpangan yang dirasakan kelompok perempuan dalam catatan Oxfam akan terus dirasakan hingga 2030 saat populasi global kian membeludak.

“Diperkirakan, 2,3 miliar orang akan membutuhkan perawatan pada 2030, meningkat 200 juta sejak 2015,” jelas Behar.

Laporan Oxfam juga menunjukkan pemerintah secara besar-besaran mengenakan pajak kepada individu dan korporasi terkaya, tapi gagal mengumpulkan pendapatan yang dapat membantu mengangkat kelompok perempuan dari ketimpangan.

 

Perhatian utama

Saat dimintai tanggapan soal fenomena itu, ekonom Center of Reform on Economis (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan ketimpangan ialah hal yang terjadi secara alami. Semua negara di dunia memiliki ketimpangan. Bobotnya saja yang berbeda, dan itu harus menjadi perhatian utama.

Pemerintah Indonesia, tutur Piter, perlu mengupayakan agar bobot ketimpangan tidak terlalu besar. Menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional yang berkualitas menjadi salah satu kunci sehingga kesempatan dan lapangan kerja lebih terbuka. Upaya lain yang dapat dilakukan pemerintah ialah terus memperlebar jaring pengaman untuk membantu lapisan masyarakat yang berada di level bawah. (X-8)

BERITA TERKAIT