21 January 2020, 07:00 WIB

BUMN Energi Masa Depan


Oki Muraza Associate Professor di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi | Opini

DEFISIT necara berjalan (current account deficit/CAD) ialah tantangan besar bagi pemerintah Indonesia. Impor minyak dan gas yang tinggi disebutkan sebagai salah satu faktor utama pemacu defisit neraca perdagangan Indonesia (Katadata, 2019). Sangat besar perhatian publik yang ditujukan kepada Pertamina dan BUMN energi lainnya agar semakin kuat untuk mengurangi defisit di sektor energi ini.

Untuk mempelajari kemungkinan yang ada guna memperkuat Pertamina dan BUMN Energi lainnya di masa depan, mari kita mencermati kecenderungan di perusahaan minyak bumi milik negara, National Oil Companies (NOC) dan International Oil Companies (IOC), di berbagai belahan dunia agar tetap perkasa menghadapi. Pertama, terus berubahnya suhu geopolitik dunia. Kedua, naik-turunnya kebutuhan minyak bumi yang berpengaruh langsung fluktuasi harga minyak dunia.

Minyak bumi sudah menjadi komoditas yang harganya dapat berubah dengan cepat. Tentunya, diperlukan strategi menuju kesetimbangan agar BUMN Energi dapat efisien di saat harga minyak tinggi dan dapat bertahan di saat harga minyak turun.

 

Menumbuhkan industri hilir

Menumbuhkan industri hilir, khususnya petrokimia, ialah salah satu cara menjaga ketahanan energi perusahaan migas di saat pertumbuhan kebutuhan (demand growth) terhadap minyak dunia turun. International Energy Agency (IEA) menyatakan bahwa di tahun 2030 kebutuhan utama terhadap minyak bumi tidak lagi untuk memenuhi bahan bakar, tapi sebagai bahan baku industri petrokimia.

Sekitar sepertiga pertumbuhan kebutuhan akan minyak bumi akan diserap oleh industri petrokimia. Meski dunia saat ini masih terbelah dua, negara maju yang tergabung di Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) berhasil menekan ketergantungan mereka akan minyak bumi. Sementara itu, ketergantungan tinggi dan pertumbuhan kebutuhan akan minyak bumi yang tinggi masih berlangsung di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berkurangnya pertumbuhan bahan bakar dunia ini memotivasi beberapa NOC untuk bertransformasi menjadi perusahaan energi dan kimia yang terintegrasi. Saudi Aramco (NOC milik Arab Saudi), misalnya, membuat joint venture dengan Dow (Sadara) dengan investasi raksasa yang mencapai US$20 miliar untuk memproduksi lebih dari 3 juta ton produk petrokimia.

Petronas (NOC milik negeri jiran Malaysia) juga membangun industri petrokimia yang terintegrasi bersama Saudi Aramco dengan nilai investasi mencapai US$28 juta. Proyek ini bernama RAPID (refinery and petrochemical integrated development) untuk mengolah 300 ribu barrel oil per day (BOPD) minyak bumi. NOC milik Abu Dhabi (ADNOC) juga menyertakan hilirisasi sebagai salah satu target besarnya dengan melipatgandakan produksi petrokimia menjadi 14,4 juta ton per tahun pada 2025.

MI/Seno

Ilustrasi MI

 

Menjejak ke pasar listrik

Berkembangnya pasar kendaraan listrik (electric vehicles) dunia juga memaksa perusahaan minyak mengadaptasi strategi bisnis mereka. Shell bergerak cepat dengan mengakuisisi perusahaan distribusi listrik First Utility di Inggris dan MP2 Energy di Amerika Serikat.

Kini, Shell tidak hanya bertumpu pada minyak bumi dan gas, tapi juga pada tenaga angin, tenaga matahari, dan biomassa. Equinor--nama baru dari NOC Norwegia yang dulu bernama Statoil--juga cepat masuk ke bisnis listrik dari tenaga matahari (Equinor, 2018).

Strategi merambahnya perusahaan minyak ke bisnis listrik dapat berupa akuisisi dan investasi minimum, investasi venture capital, memiliki langsung aset pembangkit listrik. Sangat jelas kini beberapa perusahaan minyak bumi terkemuka memiliki aset pembangkit listrik. BP memiliki kepemilikan di pembangkit listrik tenaga angin (lebih dari 2000 MW), sementara Chevron, ENI, dan Equinor juga memiliki strategi yang serupa.

Petrobras (NOC milik Brasil) saat ini bekerja sama dengan Total untuk membangun proyek energi terbarukan sebesar 165 MW di Brasil. Total juga ikut berkontribusi membangun biogas untuk 45 ribu penduduk di India (Total, 2018). IOC sangat cepat berinvestasi untuk menyediakan infrastruktur listrik bagi kendaraan listrik (charging infrastructures).

 

Fleksibilitas bahan baku

Salah satu hal penting yang harus kita perhatikan dalam pengolahan energi nasional ialah keterbatasan sumber-sumber hidrokarbon di Tanah Air. Menurunnya produksi migas dan tidak tersedianya gas alam dengan harga yang terjangkau membuat Indonesia harus lebih serius mengembangkan teknologi untuk, pertama, menjadikan minyak nabati sebagai bahan baku tambahan dalam pergolahan migas (co-processing). Kedua, untuk menghasilkan bahan bakar cair alternatif (blending). Ketiga, mengolah sampah menjadi energi dengan berbagai rute yang mendekati ekonomis.

Bahan baku alternatif saat ini di program nasional biodiesel (B20 dan B30) ialah minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) yang juga merupakan komoditas yang harganya bisa naik di masa depan. Diperlukan strategi besar untuk membuat kebun energi guna memasok minyak nabati nonpangan untuk mengantispasi kebutuhan energi di masa depan.      

Diperlukan kerja sama antara BUMN energi dan BUMN perkebunan untuk membuat kebun energi yang menyiapkan energy crops, tumbuhan nonpangan penghasil minyak nabati. BP memiliki investasi besar di Brasil untuk produksi bioethanol sebagai pencampur bensin. Shell baru-baru ini mengolah biogas dari sampah menjadi bio-LNG untuk kendaraan berat di daratan Eropa.

Keberhasilan pemerintah meningkatkan biodiesel untuk menghapus impor diesel perlu diapresiasi. Selanjutnya, diperlukan program nasional agar sumber hidrokarbon yang tersisa (gas bumi, biomassa, batu bara, dan sampah) dapat diarahkan untuk mengurangi impor bensin dan LPG.

 

Menggandeng inovasi murah meriah

Ada beberapa rute strategis dalam menginvestasikan dana penelitian di NOC dengan produksi migas yang terus menurun. Pertama, berinvestasi di lepas pantai dan laut dalam. Kedua, mengeksploitasi unconventional oil seperti heavy oil. Ketiga, membuat program nasional untuk menyediakan teknologi ‘Merah Putih’ yang murah untuk merawat sumur tua (low-cost EOR).

Bagi Indonesia, pemeliharaan sumur-sumur tua menjadi pilihan terbaik. Mengingat akan terbatasnya investasi asing pada sumur minyak baru di saat perekonomian dunia yang sedang turun (global uncertainty dan perang dagang AS-Tiongkok).

Untuk jangka pendek, diperlukan teknologi terapan yang akan mengurangi impor energi seperti penggunaan bahan bakar padatan (solid fuels) dari biomassa serta sampah perkebunan dan pertanian dalam bentuk padatan dan gas (biomethane).

Untuk jangka panjang, Indonesia perlu terobosan teknologi berbasis sumber daya alam yang ada di Nusantara, seperti penguasaan teknologi shale gas Amerika Serikat (hydraulic fracturing dan horizontal drilling) dan teknologi pengolahan batu bara menjadi bahan kimia (coal-to-chemicals) di Tiongkok.

Penelitian bukanlah jalan pintas untuk medapatkan solusi dalam satu malam, melainkan pasti akan berbuah manis. Kilang mini bersama modular plant juga menjadi potensi penguatan ketahanan energi yang menarik. Kebutuhan energi yang besar akan bensin dan LPG harus dipecah, bersama investasi di perusahaan-perusahaan start-up di bidang energi terbarukan.

Catatan singkat ini dengan sengaja tidak membahas potensi lain seperti memiliki sumur minyak di luar negeri. Dengan pertimbangan, agar investasi dapat difokuskan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan hidrokarbon di dalam negeri yang dapat mengurangi impor, mengurangi defisit berjalan, dan menjanjikan efek pertumbuhan ekonomi (multiplier effect) yang besar di dalam negeri.

Kompleksitas teknologi di BUMN energi akan meningkat pesat, mengingat kebutuhan untuk hilirisasi yang terintegrasi, peluang menjajak di pasar utilitas (listrik). Lalu, pentingnya fleksibilitas bahan baku, low-cost EOR, gas alam, dan biogas sebagai energi transisi. Juga, bahan bakar padatan di bauran energi nasional bagi sebuah negara yang kaya akan sumber biomassa serta perlunya Indonesia memiliki kebun energi.

BERITA TERKAIT