20 January 2020, 20:23 WIB

Kesiapan Masyarakat Hadapi Bencana Relatif Minim


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

PENELITI Geofisika Kebumian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Nazli Ismail, menilai masyakarat Indonesia sebenarnya cepat sadar ketika mengalami bencana hidrometeorologi. Akan tetapi, mereka juga cepat melupakan peristiwa tersebut.

Oleh karena itu, kesiapan mereka juga relatif minim dalam menghadapi bencana. "Ini sebenarnya yang perlu diingatkan. Artinya terus digulir dalam berbagai upaya kampanye bencana," kata Nazli kepada Media Indonesia, Senin (20/1)

Selain kesiapan, masyarakat juga ikut menambah potensi bencana. Bahkan, dia menilai sedikit masyakarat yang sadar menjaga lingkungan, sehingga dampak banjir sulit diminalkan.

"Kita melihat daerah pegunungan seperti Aceh saja yang hutan besar tetapi telah terjadi penggundulan. Kemudian alih fungsi lahan yang sebelumnya hutan lebat kemudian ditebang dan ditanam tanaman palawija," paparnya.

Tidak mengherankan jika frekuensi banjir atau longsor lebih sering terjadi. Mengingat, faktor kerusakan lingkungan cukup masif.

"Masyarakat butuh tempat untuk mencari kehidupan. Ternyata upaya masyakarat mencari sumber ekonomi sudah merambah keseimbangan alam yang harusnya terjaga," jelas dia.

Lebih lanjut, dia menambahkan bencana hidrometeorologi disebabkan Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera. Kondisi itu kontras dengan sisi barat dan timur yang terbuka luas oleh lautan, sedangkan sisi utara dan selatan ditutup benua yang besar.

"Ini menjadi suatu hal yang cukup signifikan dengan kondisi tropis, kita punya curah hujan tinggi," pungkasnya.(OL-11)

BERITA TERKAIT