20 January 2020, 07:50 WIB

Hujan di Jabodetabek Turun 44%


Ferdian Ananda Majni | Nusantara

TIM Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT kembali meningkatkan eskalasi operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa hujan lebat masih berpotensi terjadi di wilayah itu pada 17-23 Januari 2020.

Kepala Balai Besar TMC-BPPT, Tri Handoko Seto, mengatakan meskipun diperkirakan masih di bawah rata-rata curah hujan pada 1 Januari lalu, masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan, seperti angin kencang, genangan, banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan licin.

"Selain prakiraan yang dirilis BMKG, tim TMC-BPPT juga memprediksi bahkan cuaca ekstrem masih akan terjadi hingga 25 Januari. Meski demikian, kami berharap masyarakat tidak panik, tetapi harus tetap waspada terhadap kemungkinan hujan ekstrem tersebut. Kami akan berupaya semaksimal mungkin melaksanakan operasi TMC untuk mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek," kata Tri Handoko di Jakarta, kemarin.

Secara teknis, kata Tri Handoko, tim TMC lebih intensif memonitor pertumbuhan dan pergerakan awan yang diperkirakan menuju wilayah Jabodetabek.

"Monitoring ini dilakukan sejak dini hari hingga setelah matahari terbenam. Awan-awan tersebut akan segera disemai. Biasanya awan-awan itu masih berada di Laut Jawa, Selat Sunda, dan wilayah Ujung Kulon agar segera turun hujan sebelum memasuki wilayah Jabodetabek," sebutnya

Dia melanjutkan, data Posko TMC menunjukkan bahwa operasi ini telah mampu mengurangi curah hujan di wilayah Jabodetabek mencapai sekitar 44% dari prakiraan. "Hasil operasi ini juga menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek mampu ditekan lebih kecil daripada rata-rata curah hujan di sekitarnya," ungkapnya.

 

Trauma healing

Sementara itu, seusai musibah banjir dan tanah longsor beberapa pekan lalu, Pemerintah Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan, kini fokus pada kegiatan pascabencana. Selain menyalurkan bantuan sandang dan pangan, Dinas Sosial Kabupaten Lahat juga memberikan trauma healing.

Hal itu sebagai upaya untuk mengobati rasa trauma atas bencana yang memorak-porandakan rumah dan menghilangkan harta benda para korban yang terdampak. Kepala Dinas Sosial Lahat, Iskandar, mengatakan kegiatan penyuluhan trauma healing diutamakan bagi anak-anak korban banjir dan tanah longsor untuk menghilangkan rasa takut mereka.

Di tempat terpisah, bantuan untuk penyintas banjir bandang di pinggiran Danau Singkarak, Dusun Tanjung Sawah, Desa Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, terus mengalir setelah kejadian pada Jumat (17/1) dini hari.

ANTARA FOTO/Adi Prima

Warga melintas di depan rumah yang rusak diterjang banjir bandang, di Nagari Malalo, Kab.Tanah Datar, Sumatera Barat, Jumat (17/01/2020).

 

Sebagai bentuk empati masyarakat dari berbagai daerah, bantuan terus mengalir, baik secara pribadi, kelompok, instansi, maupun pemerintah. Antara lain, Direktur Mitigasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Medi Herlianto menyerahkan bantuan sebesar Rp250 juta. (DW/YH/YK/LD/RF/FB/N-3)

BERITA TERKAIT