19 January 2020, 12:19 WIB

Pasutri di Cianjur Bayar Biaya Persalinan Pakai Uang Koin


Benny Bastiandy | Nusantara

SEBAGAI pekerja dengan gaji minim, Yanto Kuswanto, 30 membiayai persalinan istrinya Riska, 27 dengan pecahan koin Rp1.000. Warga Kampung Mekarsari RT 05/02, Desa Rahong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini menjelaskan gaji yang diterima hanya Rp900 ribu per bulan atau rata-rata sehari Rp30 ribu sebagai pelayan toko. Sementara istrinya tidak tercatat sebagai peserta jaminan persalinan (Jampersal).

Pada Jumat (10/1) lalu, istri Yanto melahirkan di Puskesmas Cilaku. Bayi lelakinya diberi nama Muhammad Arfkana Alfarizqi ini. Yanto menjelaskan untuk biaya persalinan membutuhkan uang Rp1,4 juta. Dari hasil menabung setiap hari Rp1.000, ia kumpulkan selama sembilan bulan untuk biaya persalinan. Saat dihitung ternyata uang yang terkumpul Rp500 ribu. Ia kemudian memasukkan uang-uang receh itu ke dalam kantong plastik untuk dibayarkan ke puskesmas.

"Uang receh sebesar Rp500 ribu yang dibawa suami saya hasil memecahkan celengan kesayangannya sebetulnya tidak cukup untuk membayar biaya persalinan sebesar Rp1,4 juta," kata Riska, Minggu (19/1).

Kegigihan Yanto yang beritikad baik membayar biaya persalinan meskipun jumlahnya kurang, membuat empati pihak puskesmas. Alih-alih Yanto harus membayar biaya persalinan, uang recehan pecahan koin Rp1 ribu sejumlah Rp500 ribu itu dikembalikan lagi oleh pihak Puskesmas Cilaku.

"Oleh Kepala Puskesmas saya jadi dikasih uang sebesar Rp200 ribu. Uang receh sebesar Rp500 ribu juga dikembalikan," ucapnya.

Riska menambahkan ia dan suaminya menjadi tulang punggung keluarga. Beban hidup mereka semakin berat dengan lilitan utang ke bank emok sebesar Rp27 juta. Tapi, kata Riska, uang pinjaman dari bank emok itu digunakan kebutuhan produktif untuk membangun rumah yang sekarang ditempati.

"Dulu, rumah ini panggung. Mau roboh. Tadinya mengandalkan bantuan rutilahu, tapi tidak ada kabar lagi. Jadi kami pinjam uang ke tiga bank emok dengan total Rp27 juta untuk memperbaiki rumah. Sebulan kami harus membayar empat kali cicilan sebesar Rp1,8 juta. Ada yang dibayar setiap hari Senin dan Kamis, lalu ada yang harus dibayar setiap dua minggu," bebernya.

Sisa cicilan yang masih harus dibayar ke bank emok masih relatif besar. Karena itu, ibunya terpaksa berjualan di warung kecil-kecilan untuk menambah-nambah penghasilan. Anggota DPRD Kabupaten Cianjur, Lepi Ali Firmansyah, menyambangi keluarga pasutri tersebut. Lepi mengaku cukup terkejut mendapati ada warga Cianjur yang membayar biaya persalinan menggunakan uang receh hasil menabung di celengan.

"Ini harus menjadi tanggung jawab pemerintahan juga. Harus dibantu meskipun suami-istri ini gigih bisa mengumpulkan uang koin untuk membayar biaya persalinan," terang Lepi yang juga Ketua DPC PKB Kabupaten Cianjur.

Bagi Lepi, fenomena sosial yang dialami pasutri Yanto dan Riska harus menjadi catatan. Artinya, semua elemen pemerintahan harus intensif memantau kondisi warga agar yang terjadi di lapangan bisa cepat tertangani.

Kepala Puskesmas Cilaku Yudiansyah Sutawijaya mengiyakan adanya pasutri yang membayar biaya persalinan dengan uang receh pecahan koin Rp1 ribu. Yudiansyah pun bersimpatik dengan keluarga itu karena gigih menyisihkan uang receh koin Rp1 ribu setiap hari dengan niat digunakan untuk biaya persalinan.

"Mereka mungkin menyadari tidak bisa membayar kontan biaya melahirkan. Jadi, sejak awal mereka mengumpulkan uang koin," jelas Yudiansyah.

baca juga: Presiden Jokowi Ajak Jan Ethes Kunker ke Labuan Bajo

Ia mengaku mengembalikan lagi uang koin senilai hampir Rp500 ribu yang diberikan suami pasien. Di balik itu, Yudiansyah menegaskan kasus tersebutmerupakan salah satu contoh implementasi suami siaga (siap antar jaga).

"Untuk biaya persalinannya kami urus menggunakan Jampersal," pungkasnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT