19 January 2020, 08:40 WIB

Pesan sang Badranaya


ONO SARWONO Wartawan Media Indonesia | Weekend

SETIBANYA di sitinggil Negara Amarta, Semar Badranaya menghaturkan sembah dan salam takzim kepada Prabu Puntadewa. Semar tampak tidak sabar mendapatkan dhawuh (perintah) sang raja. Saat itu, keringatnya pun belum kering setelah terburu-buru mempercepat langkahnya agar segera sampai di hadapan sang raja.

"Nyadhong dhawuh ndara (menunggu perintah tuan)," kata Semar yang duduk bersila.

Sebelumnya, Puntadewa mengutus Gathotkaca pergi ke Dusun Klampisireng menemui Semar. Pesannya, Semar diharapkan segera datang ke Istana Amarta karena ada hal penting. Gathotkaca sendiri tidak tahu apa apa yang akan disabdakan sang raja. Dirinya hanya menjalankan perintah raja untuk menyampaikan pesan tersebut kepada Semar.

"Kakang Semar, silakan minum dulu," ujar Puntadewa setelah menerima sembah dan salam Semar. "Selamat datang di Amarta. Sehat kakang? Bagaimana kabar anak-anakmu?" lanjutnya.

Semar menyeruput teh hangat dalam gelas yang sudah tersedia di depannya. "Terima kasih ndara. Ya, hamba sehat. Gareng, Petruk, dan Bagong juga sehat walafiat," jawabnya. "Mohon maaf ndara, anak-anak saya tidak turut menghadap."

Ketiga anak Semar sebenarnya juga ikut sowan ke Amarta. Namun, mereka memilih berada di luar sitinggil, beristirahat di bawah pohon beringin yang rindang di tengah alun-alun utara yang terik.

Dalam pertemuan ketika itu, menghadap pula keluarga Pandawa lain yang ialah adik-adik Puntadewa, yakni Bratasena, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Selain mereka, juga hadir Raja Dwarawati Sri Batara Kresna dan Raja Mandura Prabu Baladewa, keduanya ialah kakak sepupu Pandawa.

Setelah saling berbasa-basi antara tuan rumah dan semua tamu serta antartamu, Puntadewa mengatakan bahwa keperluan dirinya mengundang Semar datang ke Amarta untuk dimintai pendapat terkait dengan kondisi kebangsaan yang memiriskan, terutama masih banyaknya perilaku lancung warga, yakni korupsi yang sulit diberantas.

Sejak Amarta atau Indraprastha berdiri, korupsi seperti terus bersemai. Lembaga negara penegak hukum, dengan segala peraturannya yang telah dibuat, tidak mampu menghilangkan kejahatan tersebut. Malah korupsi menjalar ke berbagai bidang. Nyaris tak ada pilar-pilar kebangsaan yang kalis dari korupsi.

Pemberantasan korupsi ibarat peribahasa hilang satu tumbuh seribu. Meski tidak henti-hentinya lembaga negara yang khusus menangani perilaku jahat tersebut garang menangkap dan kemudian menghukum mereka, terus terjadi regenerasi koruptor.    

Puntadewa galau terhadap perilaku hina yang sulit diberantas tersebut. Segala upaya sudah dilakukan, tetapi kenyataannya korupsi tidak habis. "Bagaimana menurut pendapat Kakang Semar?" tanya Puntadewa.

Semar tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala, matanya terpejam dan napasnya pelan teratur. Itu tradisi Semar setiap ia mengheningkan hati dan pikirannya. Ia sedang memohon petunjuk-Nya.

Selain dengan Begawan Abiyasa, kakeknya, Pandawa biasa meminta nasihat atau saran dari Semar setiap terbentur masalah, baik itu urusan pribadi, kebangsaan, maupun kenegaraan. Kodratnya, Semar yang sejatinya Bethara Ismaya, memang menjadi pamongnya Pandawa.

Ilustrasi MI

 

Pribadi mulia

"Ndara Puntadewa. Saya memahami kekacauan pikiran dan hati sampean," kata Semar setelah bangun dari perenungannya.

Semar mengaku sudah lama mengetahui bahwa situasi dan kondisi kebangsaan Amarta sangat memprihatinkan. Warga telah tercerabut dari akar budayanya. Terjadi krisis moral dan kepribadian. Warga tidak peduli, masa bodoh terhadap perbuatan baik atau buruk. Semua mengedan, berlomba memuaskan nafsunya masing-masing.

Dampaknya, jiwa kebangsaan warga rapuh. Semangat entitas sebagai bangsa lemah. Yang menggelora terpenuhinya kepentingan atau kebutuhan pribadi dan kelompok. Inilah yang kemudian memunculkan perilaku destruktif.  

Di tataran elite, kedudukan, jabatan atau kekuasaan, bukan sebagai gelanggang pengabdian kepada bangsa, melainkan untuk mengeksekusi nafsu. Bukan karena masih kurangannya pendapatan, melainkan karena mental serakah.

"Jadi, ndara, persoalannya adalah pada watak dan kepribadian yang rusak. Buta nurani. Inilah yang menjadi sumber terus munculnya tikus-tikus busuk," ujar Semar.

"Jadi, bukan karena ringannya sanksi pidana sehingga korupsi sulit diberantas?" kata Puntadewa.

"Meski sanksi bagi koruptor itu diperberat, bahkan hukuman mati sekalipun, itu tidak akan bisa mencegah timbulnya koruptor-koruptor baru," tukas Semar.

"Lalu, apa yang seharusnya bangsa ini lakukan?" tanya Puntadewa.

Semar menandaskan bahwa memberantas korupsi harus holistik dari segala sisi. Selain penegakan hukum dengan sanksi yang berat bagi para pelaku, tidak kalah penting ialah memperbaiki atau membangun kualitas karater dan pribadi bangsa yang beradab. Ini lebih untuk mencegah munculnya bibit-bibit baru koruptor. 

"Bagaimana caranya kakang," kata Puntadewa.

"Mengembalikan ke jati diri bangsa yang berbudi pekerti. Caranya lewat pendidikan, baik formal maupun nonformal," jelas Semar.

Menurut Semar, pendidikan saat ini lebih banyak menjadikan insan pintar otaknya, tetapi kering jiwa dan nurani. Bila diibaratkan pohon, pendidikan hanya membuat lebat buahnya, tetapi tanpa akar dan batang yang kuat. Maka itu, bila datang topan, pohon itu gampang tumbang.

Dalam bahasa lain, yang paling utama dalam pendidikan itu harus membuat setiap insan berkepribadian yang kuat (baik), baru kemudian tentang kecerdasan otak. Dengan demikian, meski angin (godaan) begitu kencang menerpa, tidak akan membuat mereka roboh terjerumus.

"Kepintaran tanpa kualitas karakter dan pribadi yang baik akan melahirkan mudarat-mudarat," tutur Semar.

Menurut Semar, insan berkepribadian mulia tidak pernah menempatkan materi semata-mata sebagai ukuran kesejahteraan hidup. Tidak tergantung pada banyaknya harta benda yang digenggam, tetapi pada bagaimana cara mendapatkannya, yaitu dengan perilaku yang baik.

Dalam konteks kebangsaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan, bukan hanya berdasarkan pada kekayaan materi setiap warga atau negara, melainkan karena kualitas pribadi bangsanya. Bangsa yang berkarakter yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan mulia.

"Watak dan pribadi bangsa yang baik tidak hanya akan mengikis korupsi, tetapi juga menjadi fondasi solusi semua persoalan menuju hidup yang ayem dan tenteram," kata sang Badranaya mengakhiri. (M-1)

 

BERITA TERKAIT