19 January 2020, 07:10 WIB

Klaim Kerajaan Baru Dinilai sebagai Kegilaan


Adi Kristiadi | Nusantara

SEJARAWAN Anhar Gonggong menilai fenomena klaim kerajaan baru seperti Keraton Agung Sejagat di Purworejo dan Sunda Empire di Bandung sebagai sebuah kegilaan. Anhar mendukung langkah pihak berwenang untuk menangkap orang-orang yang mengaku sebagai penguasa kerajaan.

"Orang gila semua itu, mana ada dalam konteks waktu sekarang ada gitu-gituan. Enggak ada. Kita sudah merdeka dan bentuk negara kita jelas, republik," tuturnya kepada Media Indonesia, kemarin.

Anhar menilai eksistensi kerajaan-kerajaan di luar Yogyakarta hanya untuk perorangan. "Satu-satunya yang diakui hanya satu, Yogyakarta. Yang lain tidak diakui," jelasnya.

"Harus ditangkap itu. Saya senang sudah ditangkap yang Jawa Tengah. Itu penipuan. Nah, tinggal Sunda Empire, itu juga harus ditangkap. Itu melanggar negara, Undang-undang dasar," tambahnya.

 

Kesultanan Selacau

Salah satu klaim kesultanan baru lainnya ialah Kesultanan Selacau Tunggul Rahayu di Kampung Nagaratengah, Desa Cibungur, Kecamatan Parung Ponteng, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Bangunan kesultanan dibangun sejak 2004 oleh Rohidin, 40, yang mengklaim bergelar Sultan Patra Kusumah VIII dan merupakan keturunan ke-9 dari Raja Surawisesa asal Padjadjaran. Selacau disebutnya berdiri sejak 1527 dan kini memiliki batas teritorial mencakup Garut,Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran bagian selatan.

MI/Adi Kristiandi

Bangunan Istana Kesultanan Selacau berdiri sejak tahun 1527 diKampung Nagaratengah, Desa Cibungur, Kecamatan Parung Ponteng, KabupatenTasikmalaya.

 

Ia mengaku kesultanannya telah mendapatkan legalitas fakta sejarah dari Perserikatan Bangsa-Bangsa di tahun 2018. "Ini ialah upaya untuk melestarikan kebudayaan. Kami juga memiliki kabinet dengan enam menteri lalu ada deputi serta pejabat daerah," ujar Rohidin, kemarin.

Ia juga menyebut Selacau telah memiliki sumber pendanaan sendiri. "Ada Sertifikat Phoenix melalui seorang grantor bernama M Bambang Utomo dan Proyek Phoenix atau uang dari bank di Swiss yang bisa diambil oleh grantor. Namun, uang Proyek Phonix telah dikuasai oleh negara dan para pemimpin Indonesia pasti tahu," kata Rohidin.

Kesultanan ini memiliki bangunan yang dilengkapi gapura hijau dan ornamen berwarna emas. Di depan istana kesultanan terdapat menara dan bangunan dua lantai.

Terdapat lapangan, gapura dan dua patung harimau di halaman belakang. Di halaman itu juga ada bangunan berisi foto sejarah kesultanan lalu mahkota berwarna emas, tongkat, dan pernak-pernik kerajaan. Sementara itu, sebuah jalan aspal mengarah ke bukit tempat beberapa makam yang diklaim sebagai leluhur kesultanan. (Ifa/AD/X-11)

BERITA TERKAIT