19 January 2020, 05:30 WIB

Ratapan Kerusakan dan Kebangkitan


Galih Agus Saputra | Weekend

PLANET ialah sebuah ratapan (lament). Ratapan untuk kebangkitan pada kerusakan Bumi. Planet ialah folklor yang dinarasikan seorang penyanyi perempuan solois yang berisikan ratapan dalam arak-arak­an nyanyian-nyanyian Melanesia. Ia mempuyai kisah tentang hidup dan kehidupan sebagai doa dan kerja keselamatan.

Planet mengisahkan pasca­tsunami di Bumi. Mengisahkan hanya seorang laki-laki dan sebuah telur sebagai simbol pangan dan energi. Laki-laki itu berusaha menetaskan telur tersebut. Sementara itu, rongsokan benda-benda mati yang tak bisa terurai berupa plastik-plastik menjelma menjadi makhluk-makhluk buas. Makhluk-makhluk yang memerlukan energi, maka mereka memburu telur bagi daya hidup mereka.

Narasi di atas merupakan penggalan sinopsis dari lakon teater berjudul Planet Sebuah Lament. Pementasan tersebut lahir sebagai karya maestro seni Indonesia, Garin Nugroho, dan mengangkat keindah­an lingkungan, seni, dan budaya Indonesia Timur (Melanesia), yang mana akan di tampilkan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, selama dua hari atau lebih, tepatnya pada 17-18 Januari.

Pementasan di Jakarta ini juga merupakan pertunjukan perdana Planet Sebuah Lament sebelum akhirnya dibawa keliling dunia. Selain itu, karya ini juga menjadi karya pembuka dalam Asia-Pacific Triennial of Performing Arts (Asia Topa) yang akan berlangsung pada Ferbuari mendatang di Melbourne, Australia.

Empat film pendek

Garin sendiri mengatakan bahwa dirinya sudah tertarik dengan ­lament sejak tujuh tahun lalu. Menurutnya, lament hidup di sudut-sudut nusantara purba, bahkan menjadi ratapan sejarah purba dunia, baik ratapan tentang hilangnya kota-kota maupun rusaknya peradaban karena perang ataupun bencana alam. Perjalanan planet terasa dipenuhi peristiwa-peristiwa yang tidak terduga, tapi menjadi peta besar untuk mewujudkan karya planet.

“Sebagai konsep visual, saya memasukkan unsur empat film pendek, masing-masing 3-5 menit. Empat film pendek ini juga berfungsi sebagai ruang dan waktu, simbolisasi jalan salib, dan representasi Bumi atau planet. Ini merupakan sebuah lament menemukan planet keselamatan,” tutur Garin, pascamementaskan Planet Sebuah Lament di hadapan awak media, Kamis (16/1).

Selain hendak ditampilkan di Australia, karya Garin yang satu ini nantinya juga akan dipentaskan di Dusseldorf, Jerman, dan Amsterdam, Belanda. Adapun koreografinya direpresentasikan kolektif secara apik dan naratif oleh Joy Alpuerto Ritter, Otniel Tasman, dan Boogie Papeda. Mereka mengombinasikan elemen gerakan tubuh dari tradisi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Papua dengan gerakan-gerakan kontemporer, baik personal maupun pada seluruh rangkaian acara. “Kalau Anda perhatikan, vocabulary tari dari Papua itu sangat banyak. Bisa ribuan geraknya,” imbuh Garin.

Pertunjukan ini juga menampilkan para penari dari berbagai dae­rah, antara lain Douglas D Krumpers, Pricillia EM Rumbiak dan Bekham Dwaa dari Papua, kemudian Rianto dari Solo, dan Galabby dari Jakarta. Sementara itu, gerakan ritmisnya diiringi musik yang digarap tiga komposer muda, yaitu Septina Layan, Taufik Adam, dan Nursalim Yadi Anugerah. Mereka mengolah komposisi untuk paduan suara yang kemudian menjadi salah satu kekuatan utama dalam narasi.

Adapun bunyi-bunyiannya sendiri, sesuai judulnya, memperde­ngarkan lament yang dewasa ini banyak hilang di wilayah Papua dan NTT. Namun, pada kesempatan ini, di satu sisi ia telah menjadi ratapan duka bencana untuk kebangkitan bersama dan di sisi lain juga menjadi suara keselamatan alam dan dunia. Ratapan-ratapan ini kemudian terdengar begitu apik saat dibawakan Mazmur Chorale Choir yang berasal dari Kupang. Beberapa yang mereka bawakan, seperti Yamaindo, Amma Amnauto, Anok Baik Rogbhai, Kabaror, hingga Maruk serta Azie.

Yamaindo berkisah tentang kematian, saat seorang perempuan menangis dan meratapi orang yang ia kasihi meninggal dunia. Amma Amnauto bercerita tentang kekeringan, musim kemarau panjang yang melanda daerah Timor. Sementara itu, Azie ia berkisah tentang nyanyian para ibu yang menghibur anaknya yang sedih.

Telur raksasa

Properti yang digunakan Garin sebagai proyeksi narasi dalam pementasan ini, yaitu telur raksasa tak habis-habisnya mencuri perhatian. Ia menjadi sebuah simbol kekuatan untuk menggabungkan imaji dan kata. Simbol tersebut selanjutnya juga menjadi bagian dari berbagai pernak-pernik atau kostum para pemain yang pada kesempatan ini digarap Anna Tregloan dari Australia, yang sekaligus juga berperan sebagai scenographer dalam pertunjukan kali ini.

Khusus untuk pemeran utama, Anna juga mengeksplorasi aspek tradisional Indonesia Timur yang digabungkan dengan elemen kontemporer. Adapun aspek tradisional itu ialah noken atau sebuah tas yang dewasa ini menjdi ciri khas Papua yang dibuat dari serat kayu. Dalam kehidupan sehari-hari, noken ini biasanya digantungkan di kepala pemiliknya untuk membawa berbagai barang bawaan, termasuk bayi, sayur, hingga babi.

Menariknya, noken kini juga telah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda di Unicef. Filosofinya juga tak kalah tinggi, ia menjadi simbol rahim seorang ibu, kesuburan, dan harapan. Seakan mempertebal filosofi tersebut, Garin juga membuat seluruh karakter utama dalam pementasan berdurasi kurang lebih 90 menit ini muncul atau terlahir dari dalam noken. (M-4)

 

BERITA TERKAIT