19 January 2020, 04:00 WIB

Membawa Anak Musim Gugur ke Jakarta


Bagus Pradana | Weekend

SETELAH meluncurkan novel Aruna dan Lidahnya, penulis berdarah Minangkabau Laksmi Pamuntjak secara resmi merilis novel berbahasa Inggris terbarunya yang ia beri judul Fall Baby pada Kamis (5/12) di Kinokuniya, Plaza Senayan, Jakarta Pusat.

Saat ditemui dalam acara launching novel Fall Baby di Jakarta, cucu dari pendiri perusahaan penerbitan CV Djambatan ini mengungkapkan bahwa dirinya butuh waktu sekitar dua tahun untuk menyelesaikan novel terbarunya ini.

Novel Fall Baby merupakan karya yang paling menyentuh kepribadiannya sebagai seorang perempuan. Ia banyak menuangkan pengalaman-pengalaman pribadinya sebagai refleksi dalam penulisan novel tersebut.

Fall Baby pertama kali terbit dalam versi bahasa Jerman pada September 2018 dengan judul Herbstkind, diterbitkan penerbit­an Ullstein Verlag, Jerman. Penerjemahan versi awal ke bahasa Jerman ini digarap oleh Corinna Rodewald dari naskah asli tulisan Laksmi Pamuntjak yang berbahasa Inggris. Baru pada Oktober 2019, Laksmi menerbitkan versi asli Fall Baby yang berbahasa Inggris di bawah bendera penerbitan Penguin Random House SEA.

Rencananya, novel Fall Baby akan segera terbit dalam versi bahasa Indonesia pada awal 2020 dengan judul Srikandi. Laksmi mengaku banyak kompromi yang ia berikan dalam penerjemahan novel terbarunya ini ke dalam bahasa Indonesia, terutama untuk bagian-bagian yang kurang lazim dalam alam pikir orang Indonesia.

Novel Fall Baby karya Laksmi Pamuntjak juga menjadi salah satu novel yang mendapatkan kehormatan untuk di-launching dalam event sastra terbesar di Bali, Ubud Writers and Readers Festival 2019, kemarin.

Berkelindan dengan Amba

Fall Baby bercerita tentang kisah dua orang wanita, bernama Srikandi (Siri) dan Dara. Siri ialah seniman visual yang telah melanglang buana, sedangkan Dara ialah seorang aktivis Hak Asasi Manusia. Menurut keterangan putri dari arsitek Mustafa Pamuntjak ini, format penulisan Fall Baby berkait lindan dengan cerita yang menjadi kerangka besar sekuel novel pertamanya, Amba.

Rencana awal yang i­ngin diangkat Laksmi Pamuntjak di dalam novel Amba itu ada tiga narator, yaitu Amba, Srikandi, dan Samuel, seorang Ambon yang bertemu dengan Amba dalam perjalanan ke Pulau Buru pada 2006. Namun, Laksmi mengaku dalam praktiknya ia kesulitan untuk menjalin narasi dari tiga sosok tokoh dalam satu novel waktu itu. Akhirnya karena merasa terlalu banyak cerita yang ingin dia ungkap dalam novel Amba, ia memutuskan untuk menyimpan narasi kisah dari beberapa karakter awalnya.

Kisah kehidupan dari tokoh Siri menjadi kerangka utama dalam novel Fall Baby. Siri merupakan anak tidak sah dari pasangan Amba dan Bhisma, tokoh protagonis dari novel pertama Laksmi, yang ingin melarikan diri menghindari masa lalunya yang kelam.

Ia memutuskan untuk berkeli­ling dunia, mengatur ulang hidupnya sebagai seniman visual internasional. Beberapa kota-kota besar di dunia, seperti London, Madrid, New York, pernah Siri singgahi, hingga pada suatu hari ia memutuskan untuk menetap di Berlin, Jerman.

Di ibu kota Jerman ini, Siri memulai hidupnya yang baru, yang penuh semangat dan artistik. Namun, suatu kejadian terjadi dan memaksanya untuk kembali ke Jakarta, kota yang ingin ia tinggalkan.

Di Jakarta, ia dihakimi. Orang-orang dari masa lalu datang lagi padanya, ia harus menghadapi sang Ibunda (Amba), perta­nyaan-pertanyaan dari mantan sahabatnya (Dara), dan rengekan putri tirinya (Amalia). Pertemuan-pertemuan tak terduga di Jakarta, akhirnya memaksa Siri untuk memberi makna baru dalam kehidupannya. Berbalut dengan narasi yang intim tentang prefe­rensi seni, pandangan agama, politik, dan perjalanan sejarah yang kompleks, Laksmi menyebut novel terbarunya ini sebagai ‘gugatan’.

Semangat gugatan terhadap ketidakadilan yang sering dialami perempuan di Indonesia menjadi landasan utama penulisan novel Fall Baby ini.

“Saya ingin menulis tentang perempuan yang berani menjadikan dirinya sebagai subjek dari kisahnya sendiri, yaitu perempuan yang merdeka dan punya pendapat serta pemikirannya sendiri,” jelas Laksmi.

di mata Laksmi, kebanyakan perempuan Indonesia meski ia pintar dan mendapat kesempatan untuk melanglang buana belajar jauh-jauh ke berbagai penjuru dunia, ujung-ujungnya mereka harus pulang dan terkungkung dalam budaya patriarki yang membuat mereka tidak bisa mengoptimalkan potensi yang mereka miliki.

Anak musim gugur

Judul Fall Baby memiliki arti tersendiri baginya. Dia mendapatkan inspirasi judul tersebut dari masukan seorang teman ketika di Berlin. Saat itu Berlin sedang musim gugur dan ketika melihat banyak daun berguguran ada satu kesan yang menyentuh hatinya, akhirnya Laksmi sepakat untuk memberikan judul pada novel terbarunya Fall Baby yang artinya ‘anak musim gugur’.

“Bukan autumn tapi fall, dan baby maknanya juga bisa macam-macam ya, bisa artinya sayang, atau secara simbolis juga bisa menjelaskan tentang Siri yang di­adopsi, jadi waktu dia diberi tahu bahwa dia diadopsi di saat umur 50 tahun itu seperti semacam awal baru di kehidupan dia, seperti kelahiran baru,” tambahnya.

Novel Fall Baby karya Laksmi Pamuntjak juga memiliki sisi artistik yang sangat khas, Laksmi memberikan ruang apresiasi bagi seni lukis melalui narasi fiksional tentang beberapa lukisan karya seniman-seniman dunia, bahkan ada empat pelukis dari Indonesia yang menginspirasi­nya, mereka ialah Sindoedarsono Soedjojono, Djoko Pekik, IGKA Murniasih, dan Umi Dahlan (murid dari pelukis Ahmad Shadali, Bapak Abstrak Ekspresionisme Indonesia).

“Waktu saya tinggal di Berlin kan banyak museum di situ, jadi ada banyak lukisan yang saya cintai dan saya masukkan di novel ini sebagai lukisan yang dicintai juga oleh Siri. Bagian itu sangat personal sekali ya, sangat autobiografis,” terang Laksmi menjelaskan tentang beberapa lukisan yang ia apresiasi.

Laksmi memang dikenal sebagai sosok sastrawan yang memiliki minat terhadap seni lukis, banyak event pameran lukisan yang rutin ia datangi, baik di dalam maupun di luar negeri. Pun dalam tulisannya yang terkini, akhirnya Laksmi berani untuk bereksperimen dalam karya terbarunya ini. Selain sebagai sebuah karya sastra, novel Fall Baby juga diakui penulisnya dibuat sebagai jembatan terhadap cabang seni lainnya, yaitu seni lukis.

Laksmi banyak menampilkan interpretasi pribadinya tentang lukisan-lukisan terbaik dunia yang ia bungkus dalam nuansa sastrawi di novel Fall Baby ini. Hal tersebut menjadikan novel ini memiliki dua bentuk, yaitu sebagai sebuah karya sastra dan sebuah laporan kurasi seni. (M-4)

BERITA TERKAIT