19 January 2020, 01:30 WIB

Sensasi Bodong


Riko Alfonso, Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend

Saat ini istilah ‘bodong’ kembali ramai disebutkan di berbagai media, baik di media cetak, media elektronik, maupun tak ketinggalan di media sosial. Sayangnya, istilah ‘bodong’ itu kini mengandung makna negatif di masyarakat.  Kata ‘bodong’ selalu dikaitkan dengan kepalsuan atau hal yang bernada palsu, ilegal, atau yang tak berizin.

‘Investasi bodong’, misalnya, berarti investasi yang tidak jelas sumber dana serta pengelolaannya. Karena tidak jelas, keuntungan yang diperoleh pun menjadi tidak jelas, bahkan malah merugikan. Contohnya, kasus investasi bodong dari aplikasi Memiles yang sedang hangat di awal tahun 2020 ini.  Dalam kasus itu, aplikasi Memiles meraup keuntungan hingga Rp750 miliar dari para penggunanya dalam waktu singkat. Selain tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aplikasi tersebut dianggap menjanjikan keuntungan yang tak wajar kepada penggunanya. Untung aparat penegak hukum dapat segera membongkar kasus ini dan cepat menangkap pengelolanya.

Entah sejak kapan istilah ‘bodong’ mengalami perubahan makna yang  radikal seperti sekarang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Kelima, kata ‘bodong’ hanya memiliki dua lema. Pertama, ‘bodong’ (Jawa) yang berarti ‘tersembul pusatnya; bujal’. Kedua, bodong (arkeologi) yang berarti ‘angin kencang’. Dalam KBBI dan bahasa Jawa, kata berkelas ajektiva ini sama sekali tidak berhubungan dengan perizinan, surat izin, dan sebagainya. Akan tetapi, meski kini bermakna negatif, pada kenyataannya istilah ‘bodong’ ini paling sering terserap di berbagai bidang kegiatan. Mari kita buktikan barang sejenak ya.

Di bidang otomotif, kita mengenal istilah motor/mobil bodong. Dalam istilah ini, mobil/motor bodong bukan berarti kendaraan yang beronderdil palsu. Mobil/motor bodong berarti mobil/motor yang tidak memiliki surat-surat kendaraan yang  sah dan lengkap, yakni BPKB dan STNK. Sebabnya bisa karena suratnya hilang, lama tidak meregistrasi ulang atau bisa juga karena hasil curian atau selundupan.

Di bidang pendidikan, pernah pula kita dihebohkan dengan istilah ‘kampus bodong’ yang diduga berkegiatan tanpa memiliki izin dari pemerintah. Kampus itu ditengarai pula menge­luarkan ijazah bodong dan gelar bodong,  bahkan juga menyelenggarakan wisuda bodong sehingga membuat Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi turun tangan untuk membubarkannya.

Di bidang medis, ada pula istilah ‘bodong’ yang merujuk pada keadaan pusar yang menonjol akibat tidak tertutupnya dinding perut dengan sempurna.

Makna sebuah kata amat mungkin mengalami perubahan. Bahkan ada kalanya makna itu berubah total, hingga berbeda sama sekali dengan makna yang terdahulunya. Hal itu bisa karena pandangan hidup penutur bahasa yang bersangkutan atau dapat pula karena kreativitas penuturnya. Kata canggih, misalnya. Dulu kata canggih bermakna ‘ banyak cakap; bawel; cerewet’, kini canggih bertambah maknanya menjadi ‘sangat modern, rumit, banyak pengalaman, atau bergaya intelektual’.

Khusus untuk kata ‘bodong’, mungkin sudah saatnya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud segera menambahkan lema baru pada kata ‘bodong’ ini di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi berikutnya menjadi ‘palsu, ilegal, atau tidak memiliki surat-surat yang lengkap’. Hal ini penting dilakukan agar tidak muncul kebingungan dari masyarakat dalam mengartikan dan menggunakan kata ‘bodong’ di kehidupan sehari-hari.

BERITA TERKAIT