18 January 2020, 00:11 WIB

Antisipasi Banjir, Esri Indonesia Kembangkan Jakarta Flood Map


Ghani Nurcahyadi | Teknologi

BANJIR besar yang melanda Jabodetabek awal tahun ini melumpuhkan sejumlah fasilitas umum, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Pemanfaatan informasi geospasial pun dianggap penting dalam tahap tanggap darurat dan evakuasi akibat bencana.

Salah satu pemanfaatan informasi geospasial itu dikembangkan oleh Esri Indonesia melalui Pusat Dukungan Darurat Geospasial atau Emergency Spatial Support Center (ESSC) yang diantaranya berbentuk Jakarta Flood Map atau peta banjir Jakarta.

CEO Esri Indonesia A. Istamar mengatakan, portal itu mencakup dasbor untuk memantau pintu air (Jakarta Flood Gate Monitoring), tampilan area terdampak banjir dan level ketinggian banjir, dasbor untuk fasilitas publik terdampak banjir, peta narasi mengenai banjir Jakarta, serta mapping sebaran jumlah pengungsi korban banjir.

"Fata-data yang digunakan pada Jakarta Flood Map merupakan data tercepat dan akurat karena bersumber langsung dari Pemprov DKI Jakarta, Dukcapil, BNPB, dan dinas terkait lainnya. Untuk Jakarta Flood Gate Monitoring, data diambil dari seluruh pintu air di Jakarta secara near real time, lengkap dengan status masing-masing pintu air," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (17/1).

Baca juga : Esri Indonesia Gandeng Microsoft Luncurkan Geo-Ai Untuk Pebisnis

Dasbor berhasil digunakan dengan baik oleh para relawan dan pemangku kepentingan di DKI Jakarta sehingga mempercepat pengambilan keputusan terkait bencana banjir yang melanda. 

"Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa portal ini mampu berfungsi secara optimal dan berguna dalam penyediaan informasi berbasis kecerdasan lokasi melalui teknologi geospasial," pungkasnya. 

Esri Indonesia sebagai perwakilan resmi dari Esri yang merupakan perusahaan pengembang Sistem Informasi Geografis (GIS) yang berkantor pusat di Redlands, California, terus melakukan pemanfaatan teknologi geospasial untuk mitigasi bencana, menyediakan data yang andal dan akurat bagi para pemangku kepentingan, relawan, guna menganalisa kumpulan data untuk menyikapi risiko yang berdampak pada infrastruktur, lingkungan, dan masyarakat luas. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT