18 January 2020, 04:40 WIB

Sayyida: Paksaan yang Berbuah Baik


Galih Agus Saputra | Weekend

Sayyida dahulunya merupakan seorang anak yang berasal dari keluarga broken home. Ibunya meninggal dunia sejak ia berusia tujuh tahun, sementara ayahnya menikah lagi beberapa tahun setelahnya. Gadis asal Temanggung, Jawa Tengah, itu, kemudian hidup berasama sang ayah dan ibu tiri, yang pada kesempatan selanjutnya memaksanya untuk masuk ke SPI.

Namun, paksaan itu akhirnya malah berbuah baik bagi tumbuh kembang Sayyida. Dari SPI, ia mulai menapaki sedikit demi sedikit jalan hidupnya dan berkat kerja keras, Sayyida kemudian juga berhasil membuktikan bahwa ia bisa menjadi orang yang sukses. Lebih lanjut, hal itu ia tunjukkan melalui keterampilan dan kecerdasan dalam memanajemen suatu produksi. Dalam proses produksi, Sayyida menjabat sebagai direktur di dua perusahaan, selain juga memimpin Divisi Resto, Food Production & Purchasing di Transformer Center, SPI.

Tak hanya itu, di SPI pula Sayyida mangaku menemukan makna sesungguhnya dari rasa syukur. “Menerima kondisi keluarga kita masing-masing, dari mana kita berasal, kenapa harus seperti ini, kenapa harus seperti itu, dan mendengar dari cerita teman-teman yang lain, yang mungkin kisah hidupnya jauh lebih sulit dari saya,” tuturnya.

Layar lebar

Selama menempuh pendidikan di SPI, Sayyida mengatakan bahwa ia belajar banyak mengenai apa itu life skill. Apa yang ia dapat dalam proses belajar mengajar, katanya, langsung diterapkan di laboratorium yang dewasa ini menjadi ruang praktik anak-anak SPI, mulai memelajari resep masakan di dapur hingga berbagai macam praktik lainnya selalu disediakan SPI secara gratis di laboratorium tersebut.

Tak hanya itu, menurut Sayyida, sistem belajar di SPI benar-benar manjur untuk memancing anak-anak agar dapat mengembangkan diri. Banyak juga hal yang diberikan untuk anak-anak agar mereka semakin percaya diri, mulai kemampuan berbicara di depan publik (public speaking) hingga kemampuan menjalin komunikasi ­antarpersonal. Hal-hal seperti inilah yang menurutnya tidak kalah ­penting karena ia sendiri tergolong sebagai anak yang suka berkecil hati.

Dahulu Sayyida mengaku juga sempat berjualan beras di pasar. Hal itu ia lakukan karena uang sakunya sering dipotong dan bahkan sering kekurangan biaya transportasi pulang-pergi ke sekolah. Namun, masa-masa itu sudah berlalu dan kini hidupnya semakin membaik, bahkan kisah hidupnya diangkat di film layar lebar berudul Anak Garuda. Sosok Sayyida dalam film ini diperankan Tissa Biani. (M-4)

 

BERITA TERKAIT