18 January 2020, 02:00 WIB

Tiongkok Hadapi Bahaya Bom Waktu Demografis


BBC/Hym/X-11 | Internasional

TINGKAT kelahiran di Tiongkok dinyata­kan telah jatuh ke level terendah sejak pembentukan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 70 tahun yang lalu meskipun telah ada pelonggaran ‘kebijakan satu anak’.

Biro Statistik Nasional Tiongkok menyatakan, tingkat kelahiran dilaporkan berada di 10,48 per 1.000 jiwa pada 2019 terendah sejak 1949. Sementara itu, jumlah bayi yang lahir pada 2019 turun 580 ribu menjadi 14,65 juta jiwa.

Tingkat kelahiran yang telah turun selama bertahun-tahun itu merupakan tantangan tersendiri bagi negara dengan tingkat perekonomian terbesar kedua di dunia itu.

Pasalnya, meskipun tingkat kelahiran turun, ang­ka kematian lebih rendah. Ini berarti populasi Tiongkok mencapai 1,4 miliar jiwa pada 2019, naik dari 1,39 miliar jiwa.

Penurunan angka kelahiran juga meningkat­kan kekhawatiran akan bahaya ‘bom waktu demografis’yaitu, populasi usia kerja yang lebih kecil harus mendukung populasi yang lebih besar dan pensiunan.

Pada 1979, pemerintah ‘Negeri Tirai Bambu’ itu sempat memperkenalkan ‘kebijakan satu anak’ di seluruh negeri dengan berbagai pengecualian untuk memperlambat pertum­buhan populasi. Keluarga yang melanggar aturan menghadapi denda, kehilangan pekerjaan, dan terkadang aborsi paksa.

Namun, kebijakan itu dipersalahkan atas ketidakseimbangan gender yang parah dengan jumlah pria yang lebih banyak daripada jum­lah perempuan, yaitu lebih dari 30 juta jiwa di 2019.

Pada 2015, pemerintah Tiongkok mengakhiri kebijakan satu anak yang memungkinkan pasangan memiliki dua anak.

Akan tetapi, reformasi itu telah gagal membalik­kan angka kelahiran yang menurun di Tiongkok meskipun terjadi peningkatan dua tahun setelah itu.

Para ahli mengatakan kegagalan itu terjadi karena pelonggaran kebijakan tidak dibarengi dengan perubahan relevan lainnya yang mendukung kehidupan keluarga seperti dukungan keuangan untuk perawatan anak dan peningkatan cuti ayah.

“Kebanyakan warga (di Tiongkok) tidak mampu menanggung beban lebih dari satu anak,” kata para ahli.

Proses penuaan masyarakat juga sedang berlangsung cepat di negara dengan penduduk terpadat di dunia itu. Ini memunculkan tantangan bagi para pemimpin Tiongkok yang berjanji untuk menjamin ketersediaan layanan kesehatan dan pensiun di tengah ekonomi yang sedang melambat. (BBC/Hym/X-11)

BERITA TERKAIT