17 January 2020, 15:00 WIB

Kurang Tidur, Awas Dimensia


Fetry Wuryasti | Weekend

PUNYA kebiasaan sulit tidur? Sebaiknya anda mulai waspada, pasalnya anda berisiko terkena masalah kognitif atau dimensia. Bedasarkan penelitian yang diterbitkan Journal of Neurology, Neurosurgery, & Psychiatry orang yang sulit tidur berisiko tinggi terkena dimensia, dibandingkan mereka yang tidur nyenyak.

Orang dengan insomnia 27% lebih mungkin mengalami demensia, dan 25% pada orang yang kurang istirahat berkualitas.

"Temuan ini menunjukkan manajemen tidur bisa digunakan untuk pencegahan demensia," kata pemimpin penelitian Dr Wei Xu dari Universitas Qingdao di Tiongkok, disitat Channel News Asia, Jumat (17/1).

Gangguan kognitif itu menyebabkan peradangan jaringan di sistem saraf pusat, termasuk otak dan sumsum tulang belakang. Sulit tidur juga mengurangi pasokan oksigen ke otak.

Orang-orang yang tidur selama 6-7 jam tiap malam, memiliki risiko demensia terendah. Risiko semakin meningkat bagi mereka yang tidur kurang dari 4 jam atau lebih dari 10 jam per malam.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, orang dewasa  membutuhkan sekitar 7 jam tidur dalam semalam. Namun pendapat berbeda dilontarkan Dr Eric Larson dari Kaiser Permanente Washington Health Research Institute di Seattle, yang berpendapat tidak selalu sulit tidur mengakibatkan demensia. Tidur selama 7-8 jam setiap malam juga bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan kesehatan otak.

"Insomnia dan keluhan tidur tampaknya menyebabkan banyak kecemasan yang, menurut penilaian saya, tidak beralasan jika sumbernya adalah kesehatan otak," Larson, yang tidak terlibat dalam penelitian itu.

"Kisaran durasi tidur yang sehat sangat bervariasi antar individu dan seiring bertambahnya usia orang," kata Larson. (M-3)

Baca juga : Kolesterol dalam Telur Baik untuk Tubuh
 

BERITA TERKAIT