17 January 2020, 09:50 WIB

Neraca Dagang Berpotensi Surplus Sepanjang 2020


Ant/E-2 | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) mengatakan ada potensi neraca perdagangan Indonesia pada 2020 akan berbalik menjadi surplus sejalan dengan penyempitan defisit yang mulai terjadi pada akhir 2019.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo di Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Jakarta, kemarin, mengatakan di akhir 2019 kinerja perdagangan menunjukkan perbaikan drastis.

Dia optimistis penyempitan defisit neraca perdagangan pada akhir 2019 akan berlanjut sepanjang 2020 seiring dengan meredanya tekanan ekonomi global.

Pada akhir 2019 defisit neraca perdagangan menurun menjadi US$3,2 miliar dari sebesar US$8,3 miliar di 2018. "Defisit neraca perdagangan di akhir 2019 berkurang cukup besar."

Ia pun berharap kondisi perekonomian global terus membaik demi membantu mengerek harga komoditas.

Dia melanjutkan, penguatan nilai neraca perdagangan juga akan membantu memperbaiki defisit transaksi berjalan (current account deficit) dari kisaran 2,5%-3% PDB, serta menjaga nilai tukar rupiah.

"Kami harap pada 2020 ini angka defisit neraca perdagangan semakin mengecil dan akan memengaruhi transaksi berjalan," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan sepanjang 2019 mengalami defisit US$3,2 miliar. Defisit tersebut terjadi karena kinerja ekspor sepanjang 2019 yang mencapai US$167,53 miliar atau lebih rendah jika dibandingkan dengan kinerja impor yang mencapai US$170,72 miliar.

"Defisit pada 2019 ini lebih kecil, bahkan hampir sepertiga dari defisit yang terjadi pada 2018 yakni US$8,6 miliar," kata Kepala BPS Suhariyanto.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambahkan, kesepakatan perdagangan awal yang ditandatangani Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok akan memberi kepastian kepada ekonomi global setelah selama beberapa bulan terjadi perang dagang.

"Kita lihat, kalau agreement ini bisa bertahan, ini merupakan suatu langkah awal yang baik," kata Sri, kemarin.

Sebelumnya, pada Rabu (15/1) Amerika Serikat dan Tiongkok menandatangani kesepakatan perdagangan awal yang akan menurunkan beberapa tarif dan meningkatkan pembelian Tiongkok atas produk-produk AS. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT