17 January 2020, 06:30 WIB

Praktik Empiris Pemindahan Ibu Kota


Siswanto Peneliti P2 (Pusat Penelitian) Politik LIPI | Opini

PEMINDAHAN ibu kota yang dilakukan sejumlah negara dapat menjadi rujukan pemindahan ibu kota yang sedang disiapkan pemerintahan Jokowi. Negara-negara yang sudah melakukan pemindahan ibu kota, seperti Amerika Serikat, Malaysia, Brasil, Nigeria, dan Myanmar.

Walaupun kasus pemidahan ibu kota di negara lain memiliki perbedaan konteks ruang dan waktu serta tingkat keberhasilannya, pengalaman negara lain tetap penting untuk dijadikan pelajaran.

Dari pengalaman empiris negara-negara lain terdapat sejumlah alasan yang mendorong pemindahan ibu kota suatu negara. Berbagai alasan yang ada tersebut, antara lain kepadatan penduduk, representasi wilayah, ancaman keamanan, kondisi geografi tidak menguntungkan, mencari kompromi politik, serta pemisahan sentra pemerintahan dan sentra ekonomi.

Motif ekonomi

Kasus pemindahan ibu kota di Brasil menarik untuk disimak karena bersinggungan dengan Indonesia. Brasil sudah melakukan pemindahan ibu kota dua kali. Pemindahan ibu kota pertama dilakukan pada abad ke-18. Pada masa itu ekonomi Brasil didukung perdagangan gula sehingga pemerintah Brasil pada masa itu menetapkan Salvador sebagai ibu kota karena dekat dengan pusat perkebunan tebu pada masa itu.

Ketika pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia berhasil mengembangkan tanaman dan industri gula yang lebih canggih, perkebunan tebu kolonial di Karibia umumnya dan Brasil khususnya terancam. Tanaman dan industri gula di Brasil dinilai sudah tidak mampu bersaing melawan kekuatan industri gula Hindia Belanda yang memiiki keunggulan komparatif khususnya di Jawa.

Saat penambangan emas mulai booming, timbul pemikiran untuk memindahkan pusat pemerintahan kolonial di Brasil ke wilayah yang dekat dengan wilayah tambang. Pada 1763, pemerintah kolonial di Brasil memindahkan ibu kota dari Salvador ke Rio de Janeiro. Pemindahan ibu kota dari mendekati perkebunan tebu bergerak mendekati penambangan emas. Jadi, motif pemerintah kolonial di balik penetapan dan pemindahan ibu kota selalu kepada motif ekonomi. Hanya saja, terdapat perubahan dari ekonomi perkebunan kepada ekonomi tambang.

Dalam perkembangannya, Rio de Janeiro dinilai terlalu kecil menjadi ibu kota Brasil karena sudah tidak mampu lagi mendukung pertumbuhan penduduk dan perkembangan kota. Kota Rio de Janeiro menjadi kota urban yang ramai sehingga kriminalitas dan kemiskinan menjadi ciri kota tersebut.

Salah satu kerusuhan bersejarah ialah ketika penduduk menolak kebijakan vaksin dari pemerintah yang menyebabkan revolusi vaksin pada 1904 dan hampir menjatuhkan pemerintahan Presiden Rodrigues Alves karena kebijakan vaksin berkembang menjadi kudeta.

Di samping itu, Kota Rio de Janeiro juga rawan dari segi keamanan. Warga kota merasa kriminalitas menjadi ancaman nyata. Pemerintah Brasil mulai berpikir kembali tentang memindahkan ibu kota. Akhirnya, pemindahan ibu kota dilakukan mulai 1954 dan selesai selama enam tahun. Pemindahan pusat pemerintah Brasil dari Rio de Janeiro ke Brasilia terjadi di era kepemimpinan Presiden Juscelino Kubitschek de Oliveira pada 1960. Negara ini melaksanakan pindah ibu kota yang kedua kali.

Kesenjangan sosial

Kebijakan pemindahan ibu kota di Brasil juga dipengaruhi faktor wilayah yang kurang merepresentasi suatu negara secara keseluruhan. Letak Rio de Janeiro dinilai kurang menjangkau seluruh wilayah Brasil alias kurang representatif sehingga diupayakan ibu kota baru yang lebih mewakili seluruh wilayahnya. Dari satu sisi, representasi wilayah berhubungan dengan soal keadilan, dari sisi lain perspektif ini masih bisa diperdebatkan.

Keberadaan ibu kota yang kurang merepresentasikan wilayah suatu negara secara keseluruhan diduga menjadi salah satu faktor kurang merata pembangunan nasional. Artinya, pembangunan yang dilakukan hanya difokuskan pada wilayah yang berdekatan dengan lokasi ibu kota.

Sementara itu, wilayah yang jauh dari ibu kota kurang tersentuh oleh pembangunan nasional. Hal ini sebenarnya juga tidak berlaku umum karena ada juga negara yang ibu kota tidak mencerminkan representasi wilayah, tetapi dapat melaksanakan pembangunan nasional dengan berdasarkan asas pemerataan atau keadilan.

Pemindahan ibu kota di Brasil dalam konteks kesenjangan sosial layak menjadi bahan pelajaran. Jangan sampai pemindahan ibu kota tetap menggambarkan kesenjangan sosial yang lebar. Di Brasilia, ibu kota baru, muncul penduduk strata bawah. Penduduk Brasilia yang direncanakan hanya untuk 500 ribu penduduk, kini memiliki 2,2 juta pendatang yang tinggal di kota-kota sekitar. Akibatnya, kesenjangan kelas dan kelompok sosial Brasil masih kentara jelas di ibu kota baru tersebut.

Aspek estetika dari Kota Rio de Janeiro jika dibandingkan dengan Kota Brasilia tidak berimbang. Rio de Janeiro sebagai kota tua tempat diawalinya kedatangan bangsa Portugal ke benua Amerika sehingga meninggalkan peninggalan sejarah yang penting dan indah. Bahkan, Rio de Janeiro dikukuhkan sebagai arsitektur dunia untuk tahun 2020 oleh UNESCO.

Pengakuan dunia kepada Kota Rio de Janeiro sebagai ibu kota arsitektur dunia sebagai gambaran betapa bangunan di sana memiliki nilai historis dan arsitektur yang gemilang.

Kota Rio de Janeiro sebagai kota urban berhasil mempertahankan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi agar identitas dan gambaran masa lalu tetap bisa dirasakan masyarakat di era sekarang.

Faktanya, banyak kota yang gagal menjaga indentitas masa lalunya karena gagal juga menjaga warisan sejarah. Karena pertimbangan bisnis, banyak gedung-gedung tua dan bersejarah dikorbankan. Akibatnya, masyarakat modern kehilangan referensi untuk memandang peradaban masa lalu yang menaungi kota tersebut.

Brasil, negara yang berpengalaman dalam pemindahan ibu kota. Negara ini melakukan pemindahan di masa kolonial dan masa kemerdekaan. Pemindahan ibu kota di Brasil dilakukan karena motif ekonomi, keamanan, kepadatan penduduk, dan representasi wilayah. Oleh karena itu, negara ini bisa diminta berbagi pengalaman terkait dengan pemindahan ibu kota tersebut.

Hal itu bisa dilakukan dengan mengirim para pihak terkait untuk berkunjung ke Brasil mengumpulkan informasi. Atau, sebaliknya konsultan dari Brasil diundang untuk memberi masukan kepada Indonesia yang sedang merencanakan pemindahan ibu kota.

BERITA TERKAIT