16 January 2020, 22:57 WIB

Menag: Moderasi Agama harus Ciptakan Keseimbangan


Ihfa Firdausya | Humaniora

MI/ Susanto
 MI/ Susanto
Menteri Agama Fachrul Razi 

MODERASI agama selalu memicu persinggungan antara dua kutub, yakni moderat dan konservatif. Dibutuhkan upaya mendekatkan kedua kutub tersebut sehingga terjadi keseimbangan.

Hal itu diungkapkan Menteri Agama Fachrul Razi saat memberi pidato dalam acara tasyakuran Hari Amal Bhakti (HAB) ke-74 di Auditorium HM Rasjidi, Gedung Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (16/1). HAB kali ini kali ini mengambil tema "Umat Rukun, Indonesia Maju".

"Kalau kita ibaratkan bandulan, bandulan itu akan selalu jatuh pada titik gravitasi. Apa yang kita usahakan, supaya yang sangat moderat agak sedikit mendekat kepada titik gravitasi, yang sangat konservatif kita buat agak sedikit mendekat ke titik gravitasi, sehingga menjadi sedikit lebih balance," imbuhnya.

Moderasi beragama, kata Menag bukan berarti memoderatkan agama, melainkan cara beragama.

"Kata Allah sengaja diciptakan berbeda-beda, tujuannya apa? Supaya kita saling mengenal. Kalau berbeda-beda itu menyebabkan kita bermusuhan, berarti kita salah mengartikan perintah Tuhan kepada kita," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fachrul juga mengapresiasi pencapaian yang telah diraih Kementerian Agama melalui menteri-menteri sebelumnya. Antara lain predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) dalam bidang keuangan, pelayanan publik yang baik dari Ombudsman, index kerukunan beragama yanh meningkat, dan pelaksanaan haji yang baik.

"Saya belum ada tiga bulan jadi menteri, jadi prestasi-prestasi tadi adalah dibuat atau di bawah pimpinan menteri-menteri sebelum saya. Tapi ke depan kita usahakan untuk berbuat lebih baik lagi," pungkasnya.

Dalam acara peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-74 ini, sejumlah kepala daerah diberi penghargaan atas kontribusi pada pengembangan agama dan keagamaan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghibahkan Rp400 miliar untuk kesejahteraan guru agama di Jakarta; Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji yang menghibahkan 23 hektare tanah pemerintah provinsi untuk asrama haji; Gubernur Riau Syamsuar yang menghibahkan tanah untuk 56 Kantor Urusan Agama (KUA); Bupati Bondowoso Salwa Arifin yang menggelontorkan Rp18 miliar untuk guru di pesantren; Bupati Bolaang Mongondow Dedi Abdul Hamid yang menghibahkan Rp4,2 miliar untuk bimbingan masyarakat Hindu; serta Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore yang tanah untuk rumah ibadah umat Buddha. (Ol-8)

BERITA TERKAIT